[dan penyair, dan ucapan-ucapan lain semacam itu—padahal mereka sendiri, dan setiap orang berakal yang mendengarnya, mengetahui bahwa semua itu hanyalah kedustaan terhadap beliau. Padahal beliau telah menantang mereka berkali-kali untuk mendatangkan tandingan, dan tantangan itu sendiri meruntuhkan klaim mereka; maka sudah pasti, seandainya mereka mampu, tentu mereka akan melakukannya, karena bila dorongan yang kuat itu ada dan kemampuan tersedia, niscaya perbuatan itu terwujud. Demikian pula halnya seluruh penduduk bumi; kenyataan ini menegaskan secara gamblang kepada siapa pun tentang ketidakmampuan semua manusia di muka bumi, baik dengan tipu daya maupun tanpa tipu daya, untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur’an. Hal ini lebih dahsyat daripada mukjizat-mukjizat yang jenisnya pernah terulang, seperti menghidupkan orang mati, sebab belum pernah ada seorang pun yang dapat mendatangkan padanannya.
Keberanian beliau ﷺ sejak permulaan—ketika masih di Makkah dan pengikutnya hanya sedikit—untuk menyatakan secara putus bahwa sekalipun manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang semisal Al-Qur’an mereka tidak akan mampu, baik pada masa itu maupun pada masa-masa berikutnya, tidak mungkin terjadi kecuali karena beliau benar-benar yakin akan kebenaran pernyataan tersebut. Orang yang masih ragu atau sekadar berprasangka tidak akan berani mengucapkannya, khawatir kedustaannya terbongkar lalu ia dipermalukan sehingga orang-orang berpaling darinya. Bila beliau begitu tegas dan yakin, maka itu semata-mata karena Allah Ta‘ala telah memberitahukannya; dan menurut kebiasaan yang diketahui, mustahil seseorang dapat memastikan bahwa seluruh makhluk takkan sanggup menandingi ucapannya, kecuali bila ia mengetahui bahwa ucapannya berada di luar kemampuan manusia—dan pengetahuan seperti itu dengan sendirinya meniscayakan sifatnya sebagai mukjizat.
Al-Qur’an al-Karim memang mukjizat dari berbagai sisi: dari sisi lafalnya, susunan kalimatnya, keindahan retorikanya dalam menautkan lafal dengan makna; dari sisi kandungan perintah-perintahnya; dari sisi berita yang diberikannya tentang Allah Ta‘ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, para malaikat-Nya dan sebagainya; dari sisi informasi gaib mengenai masa depan maupun masa lampau; dari sisi pemberitaannya tentang hari kemudian; serta dari sisi hujah-hujah yakin yang ia jelaskan di dalamnya.]