[4. Fitrah dan akal sehat selaras dengan apa yang dibawa para nabi, sedangkan para penyihir, dukun, penipu (dajjal), dan para pendusta bertentangan dengan dalil wahyu, rasio, dan fitrah.
-
Para nabi datang membawa ajaran yang menyempurnakan fitrah dan akal, sedangkan penyihir, dukun, dan para pendusta datang dengan sesuatu yang merusak akal dan fitrah.
-
Mukjizat para nabi tidak terjadi karena tindakan mereka sendiri; Allahlah yang menampakkannya sebagai ayat dan tanda bagi mereka—seperti terbelahnya bulan, tongkat yang berubah menjadi ular, turunnya Al-Qur’an, serta pemberitaan perkara gaib yang hanya diketahui Allah. Urusan ayat-ayat itu sepenuhnya di tangan Allah, bukan pilihan makhluk, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi-Nya ketika mereka menuntut sebuah tanda: “Katakanlah, sesungguhnya tanda-tanda itu di sisi Allah; dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.” Adapun keajaiban para penyihir, dukun, dan penemuan industri, semuanya terjadi melalui perbuatan makhluk.
Perbedaan antara ayat-ayat para nabi dan keajaiban para dukun sangat banyak dan jelas. Siapa yang ingin penjelasan lebih rinci, hendaklah merujuk kitab Al-Nubuwwāt karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.]