pendusta sebagaimana Dia menolong orang yang jujur; bahkan pendusta itu pasti terbongkar, dan Allah dapat saja memberinya tenggang waktu lalu membinasakannya.
Di antaranya pula: ajaran mereka satu dalam apa yang mereka perintahkan—yakni beribadah kepada Allah, beramal menaati-Nya, membenarkan Hari Akhir, dan beriman kepada seluruh kitab serta rasul—sehingga tidak mungkin satu pun dari mereka keluar dari kesepakatan itu. Yang datang belakangan membenarkan yang terdahulu, dan yang terdahulu memberi kabar gembira tentang yang belakangan; sebagaimana Al-Masih dan nabi-nabi sebelum beliau memberi kabar gembira tentang Muhammad ﷺ, dan sebagaimana Muhammad ﷺ membenarkan semua nabi sebelum beliau.
Di antara bukti kenabian: pertolongan Allah kepada para nabi. Telah maklum dari sunnatullah dan kebiasaan-Nya bahwa Dia tidak menolong pendusta sebagaimana Dia menolong orang yang jujur; sebaliknya, Dia membuka aib si pendusta dan tidak menolongnya—bahkan pasti membinasakannya. Adapun bila Allah menolong seorang raja yang zalim, raja itu tidak pernah mengaku nabi dan tidak berdusta atas nama-Nya; ia hanyalah orang zalim yang Allah kuasakan atas zalim semisalnya, sebagaimana firman-Nya: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim berkuasa atas sebagian yang lain karena apa yang telah mereka perbuat” (QS al-An‘âm: 129). Berbeda halnya dengan orang yang berkata, “Allah mengutusku,” padahal ia pendusta; ia tidak akan memperoleh pertolongan terus-menerus, Allah hanya menangguhkannya untuk sementara waktu lalu membinasakannya.
Membedakan orang jujur dan pendusta saja memiliki banyak cara dalam perkara yang lebih rendah daripada klaim kenabian; apalagi dalam hal klaim kenabian itu sendiri! Telah diketahui bahwa orang yang mengaku membawa risalah hanya mungkin termasuk makhluk terbaik dan paling sempurna, atau makhluk terburuk dan paling hina. Karena itu, salah seorang pembesar kabilah Tsaqif pernah berkata kepada Nabi ﷺ ketika beliau datang mengajak mereka masuk Islam: “Demi Allah, aku tidak akan mengatakan satu kata pun kepadamu. Jika engkau benar, engkau terlalu mulia di mataku untuk kurespons; dan jika engkau dusta, engkau terlalu hina untuk kurespons.” Maka bagaimana mungkin makhluk terbaik dan paling sempurna dapat tertukar dengan makhluk terburuk dan paling rendah?!