Dan dalil-dalil kenabian itu banyak, beragam, dan tidak terbatas:
Di antaranya: mukjizat, yaitu bentuk isim fāʿil dari al-ʿajz (ketidakmampuan) yang berlawanan dengan al-qudrah (kemampuan).
Dalam al-Qāmūs disebutkan: Mukjizat Nabi adalah sesuatu yang membuat lawan tak berdaya ketika ditantang; huruf hāʾ pada kata itu berfungsi menegaskan makna. Mukjizat ialah peristiwa luar biasa yang Allah perlihatkan melalui tangan orang yang Dia pilih sebagai nabi, sebagai bukti atas kebenarannya dan sahnya risalahnya.
Mukjizat para rasul —shalawat dan salam bagi mereka— sangatlah banyak; di antaranya adalah unta betina yang diberikan kepada Nabi Ṣālih sebagai hujjah bagi kaumnya; tongkat yang berubah menjadi ular sebagai tanda bagi Nabi Musa; menyembuhkan orang buta sejak lahir, penderita kusta, serta menghidupkan orang mati sebagai tanda bagi Nabi Isa. Begitu pula mukjizat Nabi kita Muhammad ﷺ; jumlahnya amat banyak, dan yang paling agung adalah Al-Qur’an al-Karim, mukjizat abadi yang dengannya Allah menantang jin dan manusia. Termasuk pula peristiwa Isra dan Miʿraj, terbelahnya bulan, tasbih kerikil di telapak tangan beliau, rintihan batang kurma yang merindukannya, serta berita beliau tentang kejadian masa depan maupun masa lampau.
Dalil kenabian tidak terbatas pada mukjizat saja sebagaimana dikatakan para ahli kalam; justru ia banyak dan beraneka.
Di antaranya: para nabi memberitakan kepada umat tentang kemenangan mereka, kekalahan musuh-musuh mereka, dan bahwa kesudahan yang baik tetap berada di pihak mereka; semuanya terjadi persis seperti yang mereka kabarkan, tanpa meleset sedikit pun. Hal itu dialami oleh Nuh, Hud, Ṣālih, Syuʿaib, Ibrahim, Luth, Musa, dan Nabi kita Muhammad —shalawat dan salam Allah atas mereka semuanya— sebagaimana dikisahkan Allah di dalam Kitab-Nya.
Termasuk pula: bahwa syariat dan berita yang mereka bawa teramat rapi, teliti, menyingkap hakikat, dan memberi petunjuk kepada manusia; hal yang secara pasti diketahui tidak mungkin muncul kecuali dari manusia paling cerdas dan paling jujur.
Dan di antaranya: Allah senantiasa menolong mereka, sedangkan telah diketahui dari sunnatullah —Mahasuci Dia— bahwa Dia tidak akan menolong