[Di sini terdapat sebuah persoalan yang perlu dijelaskan, yakni perbedaan antara nabi dan rasul. Perbedaan yang masyhur menyatakan bahwa rasul adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya, sedangkan nabi adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu berupa syariat tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Baik nabi maupun rasul sama-sama menerima wahyu, hanya saja seorang nabi bisa saja diutus kepada suatu kaum yang sudah beriman dengan syariat sebelumnya—seperti para nabi Bani Israil—mereka memerintahkan syariat Taurat, dan terkadang salah seorang dari mereka menerima wahyu khusus dalam persoalan tertentu. Adapun para rasul diutus kepada kaum kafir untuk mengajak mereka mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya; mereka diutus kepada orang-orang yang menentang sehingga sebagian dari mereka mendustakan (para rasul). Rasul lebih utama daripada nabi.
Para rasul pun bertingkat-tingkat keutamaannya; Allah Taʿālā berfirman: “Para rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.”¹
Rasul yang paling utama adalah para ulū al-ʿazm, yaitu lima orang: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad—ṣallā Allāhu ʿalayhim ajmaʿīn. Mereka inilah yang disebut dalam firman Allah Taʿālā: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, dan dari engkau, dan dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam; dan Kami mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.”² Serta firman-Nya: “Dia telah mensyariatkan bagi kalian agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, demikian pula yang Kami wahyukan kepadamu, dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa.”³
Yang paling utama di antara ulū al-ʿazm adalah dua khalil, yakni Ibrahim dan Muhammad—shalawat dan salam terbaik semoga tercurah atas mereka berdua—dan yang paling utama di antara keduanya adalah Muhammad ﷺ.
Demikianlah. Kenabian adalah karunia dan pilihan Allah Taʿālā; sebagaimana firman-Nya: “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia.”⁴ Kenabian bukanlah sesuatu yang dapat diraih hamba dengan kesungguhan, ijtihad, memaksakan berbagai macam ibadah, menempuh ketaatan yang paling berat, terus-menerus menyucikan jiwa, menjernihkan pikiran, membersihkan akhlak, dan melatih diri; sebagaimana