Manusia terbagi menjadi tiga golongan dalam menyikapi kitab-kitab samawi:
- Golongan yang mendustakan semuanya; mereka adalah musuh para rasul—orang-orang kafir, musyrik, dan para filsuf.
- Golongan yang beriman kepada semuanya; mereka adalah orang-orang beriman yang meyakini seluruh rasul dan apa yang diturunkan kepada mereka, sebagaimana firman Allah Taala: “Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman; semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.”¹
- Golongan yang beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap sebagian lainnya; mereka adalah Yahudi dan Nasrani serta siapa pun yang mengikuti jejak mereka, yang berkata: “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami,” tetapi mereka mengingkari apa yang datang sesudahnya, padahal itu adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka.² Bahkan mereka beriman kepada sebagian isi kitab mereka sendiri dan kufur terhadap sebagian lainnya; Allah Taala berfirman tentang mereka: “Apakah kalian beriman kepada sebagian isi Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi siapa pun di antara kalian yang melakukan hal demikian selain kehinaan di kehidupan dunia; dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling keras. Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.”³
Tidak diragukan lagi, beriman kepada sebagian kitab atau sebagian kitab-kitab sambil kufur terhadap sisanya sama saja dengan kufur terhadap semuanya; sebab wajib beriman kepada semua kitab samawi dan semua rasul. Iman harus bersifat menyeluruh, tidak terpecah, tidak terbagi-bagi, dan tidak berselisih. Allah mencela orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih tentang Kitab, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Kitab benar-benar berada dalam pertentangan yang jauh.”⁴
Adapun sebab kekufuran orang-orang yang menolak kitab, atau menolak sebagian darinya, atau sebagian dari satu kitab, adalah mengikuti hawa nafsu dan prasangka-prasangka dusta. Mereka mengaku-aku memiliki akal, pendapat, dan penalaran rasional; mereka menamai diri mereka ahli hikmah dan filsuf. Mereka mencemooh para rasul dan para pengikutnya serta menyebut mereka bodoh, sebagaimana firman Allah: “Tatkala rasul-rasul mereka datang membawa bukti-bukti yang nyata, mereka bergembira dengan ilmu yang ada pada diri mereka; lalu azab yang dahulu mereka perolok-olokkan justru menimpa mereka.”⁵