dengan menafikannya dari Allah —Mahatinggi—; sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya; Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” dan firman-Nya, “Apakah engkau mengetahui ada yang setara dengan-Nya?”; dan firman-Nya, “Dan tidak ada seorang pun yang sebanding dengan-Nya”; serta firman-Nya, “Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah,” dan firman-Nya, “Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.”
Namun, bersamaan dengan penafian-Nya terhadap diri-Nya dari kemiripan dengan makhluk, Dia menegaskan bagi-Nya sifat-sifat kesempurnaan; sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya; Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Ayat mulia ini menghimpun sekaligus penafian penyerupaan dan penetapan dua sifat, yakni mendengar dan melihat, bagi-Nya; yang menunjukkan bahwa penetapan sifat tidak mengharuskan penyerupaan, sebab keduanya tidak berkonsekuensi satu sama lain.
Demikian pula, dalam banyak ayat Al-Qur’an kita menjumpai penetapan sifat berdampingan dengan penafian penyerupaan. Inilah mazhab Salaf saleh: mereka menetapkan sifat-sifat bagi Allah dan menafikan segala penyerupaan atau penyerataan terhadap-Nya.
Siapa pun yang menganggap penetapan sifat tidak layak bagi Allah karena dikira meniscayakan penyerupaan, hanyalah terseret oleh kesalahpahamannya sendiri; ia menyangka bahwa menetapkan sifat otomatis berarti menyerupakan, lalu prasangka keliru itu membawanya menolak apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Maka orang jahil ini pertama-tama telah menyerupakan dan kemudian menolak; ia melakukan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah dari awal hingga akhir. Seandainya hatinya suci dari kotoran penyerupaan, niscaya yang terlintas serta terfahamkan baginya ialah bahwa sifat-sifat Allah mencapai puncak kesempurnaan dan keagungan, sehingga memutuskan segala bayang-bayang kemiripan antara sifat Pencipta dan sifat makhluk. Dengan begitu hatinya akan lapang untuk beriman kepada sifat-sifat Allah dengan cara yang layak bagi-Nya, sembari mensucikan-Nya dari segala keserupaan dengan makhluk.
Adapun orang yang membayangkan bahwa sifat-sifat Allah menyerupai sifat-sifat makhluk, ia sebenarnya tidak mengenal Allah sebagaimana mestinya dan tidak mengagungkan-Nya sesuai kadar-Nya. Karenanya ia terjatuh ke dalam jurang penolakan, bahkan menuding orang yang menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sekaligus menyucikan-Nya dari sifat-sifat kekurangan — berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah — sebagai “penyerupa.”