Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

dengan menafikannya dari Allah —Mahatinggi—; sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya; Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” dan firman-Nya, “Apakah engkau mengetahui ada yang setara dengan-Nya?”; dan firman-Nya, “Dan tidak ada seorang pun yang sebanding dengan-Nya”; serta firman-Nya, “Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah,” dan firman-Nya, “Maka janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah.”

Namun, bersamaan dengan penafian-Nya terhadap diri-Nya dari kemiripan dengan makhluk, Dia menegaskan bagi-Nya sifat-sifat kesempurnaan; sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya; Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Ayat mulia ini menghimpun sekaligus penafian penyerupaan dan penetapan dua sifat, yakni mendengar dan melihat, bagi-Nya; yang menunjukkan bahwa penetapan sifat tidak mengharuskan penyerupaan, sebab keduanya tidak berkonsekuensi satu sama lain.

Demikian pula, dalam banyak ayat Al-Qur’an kita menjumpai penetapan sifat berdampingan dengan penafian penyerupaan. Inilah mazhab Salaf saleh: mereka menetapkan sifat-sifat bagi Allah dan menafikan segala penyerupaan atau penyerataan terhadap-Nya.

Siapa pun yang menganggap penetapan sifat tidak layak bagi Allah karena dikira meniscayakan penyerupaan, hanyalah terseret oleh kesalahpahamannya sendiri; ia menyangka bahwa menetapkan sifat otomatis berarti menyerupakan, lalu prasangka keliru itu membawanya menolak apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Maka orang jahil ini pertama-tama telah menyerupakan dan kemudian menolak; ia melakukan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah dari awal hingga akhir. Seandainya hatinya suci dari kotoran penyerupaan, niscaya yang terlintas serta terfahamkan baginya ialah bahwa sifat-sifat Allah mencapai puncak kesempurnaan dan keagungan, sehingga memutuskan segala bayang-bayang kemiripan antara sifat Pencipta dan sifat makhluk. Dengan begitu hatinya akan lapang untuk beriman kepada sifat-sifat Allah dengan cara yang layak bagi-Nya, sembari mensucikan-Nya dari segala keserupaan dengan makhluk.

Adapun orang yang membayangkan bahwa sifat-sifat Allah menyerupai sifat-sifat makhluk, ia sebenarnya tidak mengenal Allah sebagaimana mestinya dan tidak mengagungkan-Nya sesuai kadar-Nya. Karenanya ia terjatuh ke dalam jurang penolakan, bahkan menuding orang yang menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sekaligus menyucikan-Nya dari sifat-sifat kekurangan — berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah — sebagai “penyerupa.”

1 Surah Asy-Syura, ayat 11. 2 Surah Maryam, ayat 65. 3 Surah Al-Ikhlas, ayat 4. 4 Surah Al-Baqarah, ayat 22. 5 Surah An-Nahl, ayat 74. 6 Surah Asy-Syura, ayat 11.
بنفيه عن الله - تعالى؛ كقوله تعالى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ ١، وقوله: ﴿هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً﴾ ٢، وقوله: ﴿وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ﴾ ٣، وقوله: ﴿فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً﴾ ٤، وقوله: ﴿فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَ﴾ ٥، لكن مع نفيه سبحانه عن نفسه مشابهة المخلوقين أثبت لنفسه صفات الكمال؛ كما في قوله تعالى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ ٦، فجمع في هذه الآية الكريمة بين نفي التشبيه عنه وإثبات صفتي السمع والبصر لنفسه؛ فدل على أن إثبات الصفات لا يقتضي التشبيه؛ إذ لا تلازم بينهما. وهكذا في كثير من آيات القرآن الكريم نجد إثبات الصفات مع نفي التشبيه جنبا إلى جنب، وهذا هو مذهب السلف الصالح؛ يثبتون الصفات وينفون عنه التشبيه والتمثيل. ومن زعم أن إثبات الصفات لا يليق بالله؛ لأنه يقتضي التشبيه؛ فإنما جره إلى ذلك سوء فهمه؛ حيث فهم أن إثبات الصفات يلزم منه التشبيه، فأداه هذا الفهم الخاطىء إلى نفي ما أثبته الله ﷿ لنفسه، فكان هذا الجاهل مشبها أولا ومعطلاً ثانيا، وارتكب ما لا يليق بالله ابتداء وانتهاء، ولو كان قلبه طاهراً من أقذار التشبيه؛ لكان المتبادر عنده والسابق إلى فهمه؛ أن صفات الله ﷿ بالغة من الكمال والجلال ما يقطع أوهام علائق التشبيه والمشابهة بين صفات الخالق وصفات المخلوقين، فيكون قلبه متسعّاً للإيمان بصفات الله على وجه يليق به، مع تنزيه الله عن مشابهة المخلوقين، أما من توهم أن صفات الله تشبه صفات المخلوقين؛ فإنه لم يعرف الله حق معرفته، ولم يقدره حق قدره، ولهذا وقع فيما وقع فيه من ورطة التعطيل، وصار يسمي من أثبت لله صفات الكمال ونزهه عن صفات النقص على مقتضى الكتاب والسنة؛ صار يسميه مشبها
١ سورة الشورى، ألاية ١١. ٢ سورة مريم، الآية ٦٥. ٣ سورة الإخلاص، الآية ٤. ٤ سورة البقرة، الآية ٢٢. ٥ سورة النحل، الآية ٧٤. ٦ سورة الشورى، الآية ١١.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie