Di antara mereka adalah Hisyām bin Sālim al-Jawāliqī dan Dāwud al-Jawāribī.
Allah—di dalam Kitab-Nya—telah menafikan adanya keserupaan diri-Nya dengan makhluk serta melarang membuat perumpamaan bagi-Nya. Dia berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (1), “Apakah engkau mengetahui ada yang sebanding dengan-Nya?” (2), “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” (3), “Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah” (4). Maka siapa saja yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk, pada hakikatnya ia bukanlah penyembah Allah; ia hanya menyembah berhala yang dibentuk khayalnya dan dipahat oleh pikirannya. Ia tergolong penyembah berhala, bukan hamba ar-Raḥmān.
Al-‘Allāmah Ibnul Qayyim berkata:
“Kami tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat kami;
Sesungguhnya orang yang menyerupakan adalah penyembah berhala.”
Barang siapa menyerupakan Allah dengan sifat makhluk-Nya, ia serupa dengan kaum Nasrani yang menyembah al-Masīḥ putra Maryam.
Al-‘Allāmah Ibnul Qayyim juga berkata:
“Barang siapa menyerupakan Allah Yang Mahabesar dengan makhluk-Nya,
Ia adalah kerabat musyrik Nasrani.”
Syaikh Nu‘aim bin Ḥammād, guru Imam al-Bukhārī—semoga Allah merahmati keduanya—berkata, “Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia kafir; dan barang siapa menolak apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan Rasul-Nya, maka ia kafir. Pada apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan Rasul-Nya tidak terdapat penyerupaan.”
- Kaum penolak (al-Mu‘aṭṭilah)
Merekalah yang menolak dari Allah seluruh sifat kesempurnaan yang Dia tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan Rasul-Nya, dengan alasan bahwa penetapannya meniscayakan penyerupaan dan penjisiman; sehingga mereka berada di kutub yang berlawanan dengan kaum musyabbihah.
Madzhab penolakan ini diambil dari murid-murid Yahudi, kaum musyrik, dan penyimpang dari kalangan Ṣābi’īn.