[…] ini? Dan adakah keberanian terhadap Allah yang lebih besar daripada keberanian semacam ini!
Konsekuensinya—juga—mereka berarti lebih mengetahui tentang Allah daripada Rasulullah ﷺ; sebab Rasulullah ﷺ telah menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah, sementara mereka menafikannya dan berkata, “Itu tidak pantas bagi Allah!” Adakah kesesatan yang lebih besar daripada kesesatan ini, seandainya mereka mau berakal?! Bagaimana mungkin orang-orang jahil lagi sesat ini lebih tahu tentang Allah daripada diri-Nya sendiri? Mahatinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan, sedangkan Allah Ta‘ala berfirman, “Dia mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sementara mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan ilmu.” (QS. Ṭāhā: 110). Tidak ada seorang makhluk pun yang lebih mengetahui tentang Allah—tentang apa yang pantas dan layak bagi-Nya—melebihi Rasulullah ﷺ!
Sesungguhnya yang mendorong Jahmiyyah dan para pengikutnya menolak sifat-sifat Allah hanyalah kebodohan mereka terhadap Allah dan buruknya pemahaman mereka: mereka menyangka bahwa menetapkan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dan yang telah ditetapkan Rasul-Nya pasti meniscayakan penyerupaan, karena mereka menyaksikan sifat-sifat itu ada juga pada makhluk; mereka tidak membedakan antara sifat Pencipta dan sifat makhluk. Mereka tidak memahami sifat-sifat Pencipta kecuali sebagaimana mereka memahami sifat-sifat makhluk, dan mereka tidak mengetahui bahwa sifat-sifat Pencipta—Mahasuci Dia—khusus bagi-Nya, sedangkan sifat-sifat makhluk khusus bagi mereka dan sesuai bagi mereka. Tidak ada kemiripan antara sifat-sifat Pencipta dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana tidak ada kemiripan antara Dzat Pencipta dan dzat-dzat makhluk; sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. asy-Syūrā: 11). Dia menetapkan bagi-Nya pendengaran dan penglihatan, sekaligus menafikan keserupaan apa pun, maka jelaslah bahwa penetapan sifat tidaklah meniscayakan keserupaan antara Pencipta dan makhluk.
Inilah pokok yang dipegang Ahlus Sunnah wal-Jamā‘ah dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah: mereka menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa penyerupaan, dan mereka menyucikan-Nya dari apa yang Dia sucikan diri-Nya tanpa meniadakan.
Adapun Jahmiyyah dan murid-murid mereka dari kalangan Muʿtazilah dan Asyʿariyyah, mereka membangun mazhab mereka di atas satu prinsip batil yang mereka karang sendiri, yaitu bahwa penetapan sifat-sifat ini mengharuskan…]