Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

firman-Nya dari tempatnya yang semestinya, menakwilkannya bukan dengan takwil yang benar, serta mencari-cari berbagai kemungkinan makna yang dipaksakan dan tafsir-tafsir yang lebih mirip teka-teki dan sandi daripada penyingkapan dan penjelasan. Mereka pun—menurut dugaan mereka—dibiarkan bersandar pada akal dan pendapatnya saja, bukan pada Kitab-Nya, dalam mengenal nama dan sifat-Nya; bahkan Dia menghendaki agar mereka memaknai kalam-Nya sesuai kebiasaan tutur dan bahasa mereka sendiri, padahal Dia Mahakuasa untuk menjelaskan kebenaran dengan lafaz yang gamblang, menenteramkan mereka dari kata-kata yang menjerumuskan ke dalam keyakinan batil. Namun Dia—katanya—tidak melakukan itu, justru menempuh jalan yang bertentangan dengan petunjuk dan kejelasan; sungguh itulah prasangka terburuk terhadap-Nya.

Sebab, bila dikatakan bahwa Dia tidak mampu mengungkapkan kebenaran dengan lafaz yang jelas, sebagaimana yang dapat diucapkan oleh orang itu sendiri dan para pendahulunya, maka berarti mereka menuduh kekuasaan-Nya lemah. Dan jika dikatakan bahwa Dia mampu tetapi tidak menjelaskan, berpaling dari penjelasan gamblang menuju ucapan yang menimbulkan keraguan—bahkan menjerumuskan ke dalam kebatilan yang mustahil dan keyakinan rusak—maka mereka berprasangka buruk terhadap hikmah dan rahmat-Nya.

Siapa yang menyangka bahwa dia dan para pendahulunya telah mengekspresikan kebenaran dengan lafaz yang lugas sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak, bahwa petunjuk dan kebenaran ada pada kata-kata mereka sementara lahiriah firman Allah hanya menunjukkan penyerupaan, penyamaan, dan kesesatan, dan bahwa lahiriah ucapan orang-orang yang kebingungan itulah kebenaran dan hidayah—maka itu termasuk seburuk-buruk prasangka terhadap Allah …

Sampai beliau berkata: “Dan barang siapa berprasangka bahwa Allah tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, ilmu, kehendak, dan tidak berbicara; bahwa Dia tidak pernah berbicara kepada seorang pun dari makhluk-Nya, tidak akan pernah berbicara, tidak pernah memerintah atau melarang—maka sungguh ia telah berburuk sangka kepada-Nya. Dan barang siapa berprasangka bahwa Dia tidak berada di atas langit-Nya, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya; bahwa kedudukan Dzat-Nya terhadap ‘Arsy sama dengan kedudukannya terhadap lapisan bumi paling bawah—maka ia telah menisbatkan kepada-Nya prasangka yang paling keji dan paling buruk …” Selesai ucapan beliau رحمه الله.

Beliau—semoga Allah merahmatinya—maksudkan orang-orang yang meniadakan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya berupa sifat-sifat kesempurnaan, yakni kaum Jahmiyyah, Muʿtazilah, dan Asyʿariyyah. Telah maklum, siapa yang menafikan dari Allah sifat-sifat kesempurnaan, sesungguhnya ia menetapkan bagi-Nya lawannya berupa sifat-sifat kekurangan. Mahatinggi Allah dari apa yang dikatakan orang-orang zalim setinggi-tingginya.

Konsekuensi lain dari hal ini—seakan-akan—orang-orang sesat itu lebih mengetahui tentang Allah dan apa yang layak bagi-Nya daripada Allah sendiri; sebab mereka menolak apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan mengklaim bahwa hal itu tidak pantas bagi-Nya! Maka adakah kesesatan yang lebih besar daripada

كلامه عن مواضعه وتأويله على غير تأويله، ويتطلبوا له وجوه الاحتمالات المستكرهة والتأويلات التي هي بالألغاز والأحاجي أشبه منها بالكشف والبيان، وأحالهم في معرفة أسمائه وصفاته على عقولهم وآرائهم لا على كتابة، بل أراد منهم أن يحملوا كلامه على ما يعرفونه من خطابهم ولغتهم، مع قدرته على أن يصرح لهم بالحق الذي ينبغي التصريح به ويريحهم من الألفاظ التي توقعهم في اعتقاد الباطل؛ فلم يفعل، بل سلك بهم خلاف طريق الهدى والبيان؛ فقد ظن به ظن السوء، فإنه إن قال: إنه غير قادر على التعبير عن الحق باللفظ الصريح الذي عبَّر به هو وسلفه؛ فقد ظن بقدرته العجز. وإن قال: إنه قادر ولم يبين وعدل عن البيان وعن التصريح بالحق إلى ما يوهم، بل يوقع في الباطل المحال والاعتقاد الفاسد؛ فقد ظن بحكمته ورحمته ظن السوء. ومن ظن أنه هو وسلفه عبروا عن الحق بصريحه دون الله ورسوله، وأن الهدى والحق في كلامهم وعباراتهم، وأما كلام الله؛ فإنما يؤخذ من ظاهره التشبيه والتمثيل والضلال، وظاهر كلام المتهوكين والحيارى هو الحق والهدى؛ فهذا من أسوأ الظن بالله ... " إلى أن قال: "ومن ظن أنه لا سمع له ولا بصر ولا علم ولا إرادة ولا كلام يقول به، وأنه لم يكلم أحدًا من الخلق، ولا يتكلم أبداً، ولا قال ولا يقول، ولا له أمر ولا نهي يقوم به؛ فقد ظن به ظن السوء. ومن ظن به أنه ليس له فوق سماواته على عرشه بائنا من خلقه، وأن نسبة ذاته إلى عرشه كنسبتها إلى أسفل السافلين؛ فقد ظن به أقبح الظن وأسوأه ... " انتهى كلامه ﵀. وهو يعني به أولئك الذين يفوا ما أثبته الله لنفسه من صفات الكمال من الجهمية والمعتزلة والأشاعرة، ومعلوم أن من نفى عن الله صفات الكمال؛ فقد أثبت له أضدادها من صفات النقص، تعالى الله عما يقول الظالمون علوّاً كبيرا. ثم يلزم من هذا أن يكون هؤلاء الضلال أعلم بالله وما يستحقه من الله؛ لأهم نفوا عنه ما أثبته لنفسه، وزعموا أنه لا يليق به! وأي ضلال أعظم من

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie