[Metode Jahmiyyah dan para murid mereka dalam masalah nama dan sifat Allah:
Seorang muslim wajib menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan cara yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam al-Kitab dan as-Sunnah; karena hal itu termasuk bagian dari iman kepada Allah ﷿. Inilah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang menjadikan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya sebagai dalil sekaligus rujukan dalam perkara ini.
Berbanding terbalik dengan Jahmiyyah dan murid-murid mereka dari kalangan Muʿtazilah dan Asyʿariyyah, yang meniadakan apa yang Allah tetapkan bagi-Nya berupa nama dan sifat, atau meniadakan sebagian dan menetapkan sebagian lain sesuka hati mereka, lalu menjadikan acuan apa yang disimpulkan oleh akal mereka yang serba terbatas, atau apa yang dipaksakan kepada mereka oleh para imam kesesatan. Amat jauh perbedaan antara orang yang menjadikan al-Kitab dan as-Sunnah sebagai hujjahnya dengan orang yang bersandar pada serpihan-serpihan pikiran dan sampah benak, sebagaimana dikatakan salah seorang dari mereka:
“Setiap nash yang terkesan menyerupakan,
Takwil-kanlah atau serahkanlah, demi klaim pensucian.”
Beginilah perlakuan mereka terhadap nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah dalam bab nama dan sifat Allah: menakwilnya, yakni memalingkan teks-teks itu dari makna-makna agung yang dikandungnya kepada apa yang diputuskan akal mereka berupa gagasan mandul dan pendapat batil; dan apa yang tak sanggup dijangkau akal mereka, mereka serahkan saja (tafwidh) sambil meyakini kebalikan dari petunjuknya.
Maha Suci Engkau, Rabbku! Betapa agung kedudukan-Mu dan betapa besar kesabaran-Mu terhadap hamba-hamba-Mu. Mereka menafikan dari-Mu apa yang Engkau tetapkan bagi diri-Mu berupa sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, menyelisihi Kitab-Mu, dan mendahulukan bisikan akal mereka di atas apa yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu. Mereka menolak nama-nama dan sifat-sifat-Mu, bahkan menolak pula kehujjahan dan petunjuk Kitab-Mu.
Imam Ibnul Qayyim ﵀ berkata tentang mereka: “Barang siapa menyangka bahwa Allah mengabarkan tentang diri-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya dengan lafaz-lafaz yang lahirnya batil, menyerupakan dan menyamakan, sementara kebenaran tidak Dia jelaskan—hanya Dia selipkan dalam simbol-simbol jauh dan isyarat-isyarat yang penuh teka-teki—sedangkan secara terus-menerus Ia menegaskan hal-hal yang (menurut mereka) mengandung penyerupaan dan penyamaan batil, lalu Ia menghendaki makhluk-Nya untuk melelahkan pikiran, tenaga, dan akal mereka dalam menyelewengkan…]