Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

Pertama: bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah semata-mata berdasar penetapan wahyu; artinya, mereka tidak menetapkan bagi Allah kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi-Nya dalam Kitab-Nya atau yang telah Rasul-Nya tetapkan dalam Sunnah-nya, baik berupa nama maupun sifat. Mereka tidak menambahkan apa pun dengan akal dan pemikiran sendiri, dan mereka pun tidak menafikan apa pun dari Allah kecuali apa yang Allah nafikan dari diri-Nya dalam Kitab-Nya atau yang Rasul-Nya nafikan dalam Sunnah-nya; mereka tidak menafikan sesuatu hanya karena dorongan akal dan pikiran mereka. Dengan demikian, mereka sama sekali tidak melampaui batas Kitab dan Sunnah. Terhadap perkara-perkara yang tidak ditegaskan oleh Kitab dan Sunnah—baik penetapan maupun penafian—seperti ‘arad, jism, dan jawhar, mereka berhenti (tawaqquf); inilah konsekuensi pokok dari prinsip agung tersebut.

Kedua: apa pun yang Allah nisbatkan kepada diri-Nya, atau yang dinisbatkan Rasul ﷺ kepada-Nya, adalah benar sesuai makna zahirnya; di dalamnya tidak terdapat teka-teki ataupun kiasan yang samar. Maknanya dapat dipahami sebagaimana kita memahami maksud seorang pembicara dari ucapannya. Karena itu, Ahlus Sunnah menetapkan lafaz sekaligus makna sifat-sifat tersebut. Apa yang Allah nisbatkan kepada diri-Nya, atau yang dinisbatkan Rasul ﷺ kepada-Nya, bukan termasuk ayat-ayat samar (mutasyabih) yang maknanya diserahkan begitu saja; sebab menganggap nash-nash tentang sifat tidak mempunyai makna yang dipahami berarti menjadikannya bahasa asing yang tak dapat dimengerti. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk mentadabburi seluruh Al-Qur’an, mendorong kita untuk memikirkannya dan memahaminya. Jika nash-nash tentang sifat dianggap tidak bermakna, berarti Allah memerintahkan kita menelaah dan memahami sesuatu yang mustahil dipahami serta mewajibkan kita meyakini sesuatu yang tidak dijelaskan-Nya kepada kita—Mahasuci Allah dari anggapan demikian.

Dengan demikian, makna sifat-sifat Allah Ta‘ala itu jelas dan wajib diyakini; adapun bagaimana bentuk (kaifiyah) sifat-sifat tersebut, maka ia tidak diketahui oleh kita—hanya Allah Ta‘ala yang mengetahuinya. Karena itulah, ketika Imam Mâlik bin Anas rahimahullah ditanya tentang firman Allah, “Ar-Rahmân beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thâhâ: 5), “bagaimana Dia beristiwa?” beliau menjawab, “istiwa itu maknanya diketahui, caranya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan mempertanyakannya adalah bid‘ah.”

Apa yang dikatakan Imam Mâlik tentang istiwa merupakan kaidah bagi seluruh sifat, dan itulah pendirian Ahlus Sunnah wal Jamâ‘ah secara keseluruhan. Maka siapa saja yang menisbatkan kepada salaf bahwa mereka mendelegasikan makna nama-nama dan sifat-sifat serta menjadikan nash-nash itu sebagai ayat-ayat samar yang ilmunya hanya Allah khususkan

1 Surah Thaha, ayat 5.
أولاً: أن أسماء الله وصفاته توقيفية؛ بمعنى أنهم لا يثبتون لله إلا ما أثبته الله لنفسه في كتابه أو أثبته له رسوله في سنته من الأسماء والصفات، ولا يثبتون شيئا بمقتضى عقولهم وتفكيرهم، ولا ينفون عن الله إلا ما نفاه عن نفسه في كتابه أو نفاه عنه رسول في سنته، لا ينفون عنه بموجب عقولهم وأفكارهم؛ فهم لا يتجاوزون الكتاب والسنة، وما لم يصرح الكتاب والسنة بنفيه ولا إثباته؛ كالعرض والجسم والجوهر؛ فهم يتوقفون فيه؛ بناء على هذا الأصل العظيم. ثانيا: أن ما وصف الله به نفسه أو وصفه به رسول ﷺ؛ فهو حق على ظاهره، ليس فيه أحاج ولا ألغاز، بل معناه يعرف من حيث يعرف مقصود المتكلم بكلامه؛ فأهل السنة يثبتون ألفاظ الصفات ومعانيها؛ فليس ما وصف الله به نفسه أو وصفه به رسول صلى الله عليه وسلممن المتشابه الذي يفوَّض معناه؛ لأن اعتبار نصوص الصفات مما لا يفهم معناه يجعلها من الكلام الأعجمي الذي لا يفهم، والله تعالى قد أمرنا بتدبر القرآن كله، وحضنا على تعقله وتفهمه، وإذا كانت نصوص الصفات مما لا يفهم معناه؛ فيكون الله قد أمرنا بتدبر وتفهم ما لا يمكن تدبره وتفهمه، وأمرنا باعتقاد ما لم يوضحه لنا، تعالى الله عن ذلك. إذاً؛ فمعاني صفات الله تعالى: معلومة يجب اعتقادها، وأما كيفيتها؛ فهي مجهولة لنا، لا يعلمها إلا الله - تعالى، ولهذا يقول الإمام مالك بن أنس ﵁ لما سئل عن قوله تعالى: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾ ١؛ كيف استوى؟ قال: "الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة". وما قال الإمام مالك في الاستواء هو قاعدة في جميع الصفات، وهو قول أهل السنة والجماعة قاطبة، فمن نسب إلى السلف أنهم يفوضون معاني الأسماء والصفات، ويجعلون نصوصها من المتشابه الذي استأثر الله بعلم
١ سورة طه، الآية ٥.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie