sembunyikan untuk-Nya sendiri; kemudian Dia menampakkannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki dari para malaikat-Nya atau selain mereka, dan Dia tidak menurunkannya di dalam kitab-Nya. Bagian lain Dia turunkan di dalam kitab-Nya dan dengannya Dia memperkenalkan Diri-Nya kepada para hamba-Nya. Dan bagian yang ketiga Dia rahasiakan dalam ilmu gaib di sisi-Nya; tidak seorang pun dari makhluk-Nya mengetahui hal itu.”
Adapun firman-Nya: “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpangkan nama-nama-Nya,” maksudnya: berpalinglah dari mereka dan biarkanlah mereka; karena Allāh sendirilah yang akan membalas mereka. Oleh sebab itu Dia berfirman: “Kelak mereka akan mendapat balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Makna “menyimpangkan nama-nama-Nya” ialah memalingkan nama-nama tersebut, beserta hakikat dan maknanya, dari kebenaran yang tetap baginya. Bentuk-bentuk penyimpangan terhadap nama-nama Allāh antara lain:
- Menjadikan nama-nama itu bagi berhala, seperti penamaan mereka al-Lāt (dari al-Ilāh), al-‘Uzzā (dari al-‘Azīz), dan menamai patung sebagai ilāh.
- Menamakannya dengan sesuatu yang tidak layak bagi keagungan-Nya; seperti orang-orang Nasrani yang menyebut-Nya “Bapa”, atau para filsuf yang menyebut-Nya “yang terwajib dengan zat-Nya” atau “sebab fa‘il alami”.
- Mensifati-Nya dengan kekurangan yang Dia Mahatinggi darinya; seperti ucapan sebagian Yahudi terburuk: “Sesungguhnya Dia miskin”, atau “Dia beristirahat pada hari Sabtu”, dan perkataan mereka: “Tangan Allāh terbelenggu.”
- Menafikan makna nama-nama yang paling indah dan mengingkari hakikatnya; sebagaimana Jahmiyyah dan para pengikutnya mengatakan bahwa nama-nama itu sekadar lafaz kosong, tidak memuat sifat dan makna apa pun; mereka menyebut-Nya as-Samī‘ al-Baṣīr namun berkata: “Dia tidak memiliki pendengaran dan penglihatan”, misalnya. Ini adalah salah satu bentuk penyimpangan terbesar, baik secara akal maupun syariat, dan ia berlawanan dengan penyimpangan kaum musyrik; sebab kaum musyrik memberikan sebagian nama dan sifat-Nya kepada sesembahan-sesembahan mereka, sedangkan kelompok ini mencabut kesempurnaan-Nya dan meniadakan nama serta sifat-Nya.
Kewajiban kita adalah menetapkan nama-nama-Nya serta meyakini apa yang dikandungnya berupa sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, tanpa penyelewengan dan penolakan, tanpa takyīf dan penyerupaan, sebagaimana firman-Nya