maka pembahasannya pun dipisahkan, dijadikan satu bagian tersendiri, dan banyak kitab disusun mengenainya; di antaranya Imam Ahmad menulis bantahannya yang masyhur kepada Jahmiyyah, putranya ‘Abdullâh menulis Kitab as-Sunnah, ‘Abd al-‘Azîz al-Kinânî menulis al-Ḥayda untuk membantah Bisyr al-Mirîsî, Abû ‘Abdillâh al-Marwazî menulis Kitab as-Sunnah, ‘Utsmân bin Sa‘îd menulis ar-Radd ‘alâ Bisyr al-Mirîsî, dan Imâmul-A’immah Muhammad bin Khuzaimah menulis Kitab at-Tauḥîd. Selain mereka, Syaikhul-Islâm Ibn Taimiyyah, muridnya Ibnul-Qayyim, dan orang-orang setelah mereka yang meniti jalan yang sama juga menulis bantahan terhadap kelompok tersebut dan para penerusnya. Segala puji dan karunia hanya milik Allah atas penjelasan kebenaran dan pembatalan kebatilan.
Orang-orang pertama yang diketahui mengingkari sifat-sifat Allah adalah sebagian musyrik Arab, tentang mereka Allah berfirman: “Demikianlah Kami mengutus engkau kepada suatu umat yang telah didahului oleh beberapa umat agar engkau membacakan kepada mereka apa yang Kami wahyukan kepadamu, tetapi mereka kufur kepada ar-Raḥmân (Yang Maha Pengasih).”
Penyebab turunnya ayat ini adalah, ketika kaum Quraisy mendengar Rasulullah ﷺ menyebut nama ar-Raḥmân, mereka mengingkarinya; maka Allah menurunkan firman-Nya: “Sedang mereka kufur kepada ar-Raḥmân.”
Ibnu Jarîr juga menuturkan bahwa kejadian itu terjadi pada perjanjian Ḥudaibiyyah. Ketika penulis perjanjian menuliskan “Bismillâh ar-Raḥmân ar-Raḥîm”, kaum Quraisy berkata, “Adapun ar-Raḥmân, kami tidak mengenalnya.”
Ibnu Jarîr meriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbâs: Rasulullah ﷺ, tatkala sujud, berdoa: “Yâ Raḥmân! Yâ Raḥîm!” Lalu kaum musyrik berkata, “Ia mengaku berdoa kepada satu Tuhan, tetapi ia berdoa kepada dua.” Maka Allah menurunkan ayat: “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah ar-Raḥmân; dengan nama apa pun kalian menyeru-Nya, Dia memiliki nama-nama yang paling indah.’” Allah juga berfirman dalam surat al-Furqân: “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Sujudlah kepada ar-Raḥmân,’ mereka berkata, ‘Siapakah ar-Raḥmân itu?’”
Merekalah leluhur Jahmiyyah dan Asy‘ariyyah dalam mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah—seburuk-buruk leluhur bagi seburuk-buruk penerus—sebagaimana firman-Nya: “Apakah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai penolong selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian? Sungguh buruk bagi orang-orang zalim pergantian itu.”