Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

[…Allah ﷺ dalam salat, kami mengucapkan: “as-salāmu ʿalallāh min ʿibādih, as-salāmu ʿalā fulānin wa fulān.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Jangan kalian ucapkan ‘as-salāmu ʿalallāh,’ karena Allah adalah as-Salām,” yakni Allah tersucikan dari segala kekurangan.

Imam Ibn al-Qayyim—rahimahullāh—berkata: “Salām adalah masdar dan termasuk lafaz doa; ia memuat unsur inšā’ (penciptaan kalimat) sekaligus khabar (pemberitaan). Sisi khabar bertentangan dengan sisi inšā’, dan itulah makna salām yang dimaksud saat memberi salam …”.

Beliau menambahkan: “Karena saat itu adalah momen memohon keselamatan—yang paling penting bagi seseorang—permohonan itu disampaikan dengan memakai salah satu Nama Allah Ta‘ālā, yakni as-Salām, dari-Nyalah keselamatan diminta; sehingga mencakup dua makna: pertama, menyebut Allah …; kedua, memohon keselamatan, inilah tujuan orang yang mengucap salam.”

  1. Termasuk lafaz yang tidak boleh diucapkan kepada Allah Ta‘ālā ialah: “Allāhumma, ampunilah aku jika Engkau berkehendak,” sebab memohon kebutuhan kepada Allah tidak digantungkan pada kehendak, melainkan dinyatakan dengan tegas.

Dalam Shahih diriwayatkan dari Abū Hurairah—raḍiyallāhu ‘anhu—bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian berkata, ‘Allāhumma, ampunilah aku jika Engkau berkehendak; Allāhumma, rahmatilah aku jika Engkau berkehendak.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permintaan, karena Allah tidak bisa dipaksa.” Dalam riwayat Muslim: “Dan hendaklah ia memperbesar harapan, sebab tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi Allah untuk Dia berikan.”

Larangan itu karena dua hal:

  1. Allah—Mahasuci Dia—tidak ada yang dapat memaksa-Nya berbuat; Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Berbeda dengan hamba, yang kadang melakukan sesuatu dengan enggan karena takut atau berharap kepada makhluk; Allah tidak demikian.
  2. Menggantungkan permohonan pada kehendak menandakan kelesuan dalam meminta dan lemahnya harapan.]
الله صلى الله عليه وسلمفي الصلاة؛ قلنا: السلام على الله من عباده، السلام على فلان وفلان. فقال النبي ﷺ: لا تقولوا السلام على الله؛ فإن الله هو السلام"؛ أي: إن الله سالم من كل نقص. قال الإمام ابن القيم ﵀: "السلام مصدر، وهو من ألفاظ الدعاء، يتضمن الإنشاء والإخبار؛ فجهةالإخبارية تناقض الجهة الإنشائية، وهو معنى السلام المطلوب عند التحية ... ". إلى أن قال: "والمقام لما كان مقام طلب السلامة التي هي أهم عند الرجل أتى في طلبها بصيغة اسم من أسماء الله - تعالى، وهو السلام، الذي تطلب منه السلامة؛ فتضمن معنيين: أحدهما: ذكر الله ... والثاني: طلب السلامة، وهو مقصود المسلم". ٢- ومن الألفاظ التي لا تقال في حق الله تعالى:"اللهم اغفر لي إن شئت"؛ فطلب الحاجة من الله لا يعلق على المشيئة؛ وإنما يجزم به. وفي (الصحيح) عن أبي هريرة ﵁ أن رسول الله ﷺ قال: " لا يقل أحدكم: اللهم اغفر لي إن شئت، اللهم ارحمني إن شئتن ليعزم المسألة؛ فإن الله لا مكره له"، ولمسلم: "وليعظم الرغبة؛ فإن الله لا يتعاظمه شيء أعطاه". والنهي عن ذلك لأمرين: الأول: أن الله - سبحانه - لا مكره له على الفعل، وإنما هو يفعل ما يريد؛ بخلاف العبد؛ فإنه قد يفعل الشيء وهو كاره، ولكن يفعله لخوف أو رجاء من أحد، والله ليس كذلك. الثاني: أن التعليق على المشيئة يدل على فتور في الطلب وقلة رغبة فيه،

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie