Dalam hadis ini terdapat penegasan bahwa balasan sepadan dengan amal; di dalamnya juga terdapat penetapan akan keridaan Allah—Mahasuci Dia—yang sesuai dengan keagungan-Nya sebagaimana seluruh sifat-Nya, penjelasan hikmah di balik diturunkannya musibah kepada para hamba, penetapan tentang qadha dan qadar bahwa musibah terjadi dengan ketentuan dan takdir Allah, serta syariat untuk bersabar atas musibah, kembali kepada Allah, bertawakal hanya kepada-Nya pada setiap malapetaka, dan menolak segala keburukan.
Allah memerintahkan untuk memohon pertolongan dengan sabar dan salat dalam menghadapi pelbagai kesukaran dan keletihan hidup, karena di balik semua itu terdapat kebaikan dan akhir yang terpuji. Dia juga mengabarkan bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar dengan pertolongan dan dukungan-Nya. Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat; sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” Hal ini menunjukkan pentingnya kesabaran dan kebutuhan seorang mukmin terhadapnya; ia termasuk pilar akidah.
Kita memohon kepada Allah ﷿ agar menganugerahkan kepada kita kesabaran dan sikap mengharap pahala, serta melimpahkan kepada kita taufik dan hidayah.