atas dosa-dosa, serta mendorong kepada kesabaran; maka seseorang diberi pahala karenanya, ia menuntut hamba untuk kembali kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan berpaling dari makhluk … serta berbagai maslahat agung lainnya. Maka hakikat bala itu sendiri, Allah menjadikannya penghapus dosa dan kesalahan, dan ini termasuk nikmat terbesar. Musibah adalah rahmat dan nikmat bagi seluruh makhluk, kecuali bila orang yang tertimpa justru terjerumus karenanya ke dalam maksiat yang lebih besar daripada sebelumnya; ketika itu musibah menjadi keburukan baginya dari sisi apa yang menimpa agamanya. Di antara manusia ada yang, ketika diuji dengan kefakiran, penyakit, atau rasa sakit, muncul padanya kemunafikan, keluh-kesah, penyakit hati, kekufuran terang-terangan, meninggalkan sebagian kewajiban, dan melakukan sebagian keharaman yang merusak agamanya. Bagi orang seperti ini, kesembuhan lebih baik daripada musibah, ditinjau dari dampak yang ditimbulkan, bukan dari hakikat musibah itu sendiri. Adapun siapa yang melalui musibah memperoleh kesabaran dan ketaatan, maka baginya musibah menjadi nikmat keagamaan; sebab ia—sebagai perbuatan Rabb ﷿—merupakan rahmat bagi makhluk, dan Allah Ta‘ala terpuji karenanya. Barangsiapa diuji lalu dikaruniai kesabaran, maka kesabaran itu menjadi nikmat dalam agamanya; setelah dosa-dosanya dihapus, ia mendapatkan rahmat serta pujian Rabb-nya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Mereka itulah yang memperoleh salawat dari Rabb mereka dan rahmat” (al-Baqarah: 157). Ia juga meraih ampunan kesalahan dan pengangkatan derajat. Barangsiapa menunaikan kesabaran yang wajib, ia memperoleh semua itu.” Selesai.
Di antara hikmah ilahiah dalam menurunkan musibah adalah menguji para hamba ketika ia terjadi—siapa yang sabar dan ridha, dan siapa yang gelisah dan murka; sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Besar kecilnya ganjaran sebanding dengan besar kecilnya bala. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka; siapa yang ridha maka baginya keridhaan, dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dinilai hasan.
Ridha ialah seorang hamba menyerahkan urusannya kepada Allah, berbaik sangka kepada-Nya, dan mengharap pahala-Nya.
Adapun murka ialah kebencian terhadap sesuatu dan ketidakridhaan dengannya; maksudnya, siapa yang murka kepada Allah atas apa yang Dia tetapkan, maka baginya kemurkaan dari Allah.