[adalah kunci celaan. Keadaan kedua adalah memandang kepada ketetapan (Allah) dan memperhatikannya—bahwa bila sesuatu memang telah ditakdirkan, ia tidak akan luput darinya dan tidak seorang pun dapat mengalahkannya.
Karena itu Nabi ﷺ membimbingnya kepada apa yang bermanfaat, baik ketika keinginannya terwujud maupun ketika ia terluput; beliau melarangnya mengucapkan “seandainya” dan menjelaskan bahwa kata tersebut membuka (pintu) perbuatan setan, karena di dalamnya terkandung penyesalan atas apa yang telah lewat, kesedihan, kekecewaan, dan celaan terhadap takdir. Orang yang mengucapkannya berdosa, dan hal itu termasuk pekerjaan setan. Larangan ini bukan semata-mata pada lafaz “seandainya”, melainkan pada hal-hal yang menyertainya di dalam hati yang bertentangan dengan kesempurnaan iman dan membuka (pintu) perbuatan setan.
Apabila ada yang berkata, “Bukankah Rasul ﷺ sendiri pernah mengucapkan kata itu ketika memerintahkan para sahabat membatalkan haji mereka menjadi umrah, sedangkan beliau sendiri tidak membatalkannya karena membawa hadyu?”
Jawabannya: ucapan beliau ﷺ, “Seandainya aku tahu sejak awal apa yang aku ketahui sekarang, niscaya aku tidak akan membawa hadyu,” hanyalah pemberitaan tentang masa depan, bukan penentangan terhadap takdir. Beliau mengabarkan kepada para sahabat bahwa seandainya beliau memulai ihram dengan haji, tentu beliau tidak akan membawa hadyu dan pasti akan berihram untuk umrah. Beliau mengatakan itu sebagai dorongan dan penenteram hati tatkala melihat mereka ragu menjalankan perintahnya agar membatalkan haji menjadi umrah. Ucapan ini tidak termasuk yang dilarang; ia sekadar penjelasan tentang apa yang akan beliau lakukan di masa mendatang seandainya hal itu terjadi. Yang dilarang adalah mengucapkannya untuk menentang ketetapan Allah—wallāhu aʿlam.
Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ʿanhu ini sangat dibutuhkan setiap hamba; ia mencakup penetapan takdir, penegasan adanya usaha, dan pelaksanaan penghambaan.
Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang makna hadis ini: “Jangan lemah dalam melaksanakan apa yang diperintahkan, dan jangan gundah menghadapi apa yang telah ditakdirkan.”]