orang beriman; ia akan diberi balasan atas kebaikannya di dunia dan akan mendapat pahala atasnya di akhirat.
Syaikh Muḥammad bin ʿAbd al-Wahhāb ﵀ berkata, “Para salaf menukil beberapa bentuk perilaku—yang juga banyak dilakukan orang sekarang tetapi mereka tidak memahami hakikatnya—berkaitan dengan makna ayat ini:
-
Amal saleh yang dikerjakan banyak orang demi mengharap wajah Allah—seperti sedekah, salat, silaturahim, berbuat baik kepada sesama, meninggalkan kezaliman, dan semisalnya—yang ia lakukan atau tinggalkan secara ikhlas karena Allah; namun ia tidak menginginkan pahalanya di akhirat. Ia hanya berharap Allah membalasnya dengan menjaga serta menumbuhkan hartanya, melindungi keluarga dan anak-anaknya, atau mengekalkan nikmat atas mereka. Ia sama sekali tidak berminat mengejar surga dan lari dari neraka; orang semacam ini diberi balasan amalnya di dunia, tetapi tidak memperoleh bagian apa pun di akhirat. Jenis ini disebutkan oleh Ibn ʿAbbās.
-
Jenis kedua—lebih berat dan lebih menakutkan dari yang pertama—ialah apa yang Mujāhid sebutkan, bahwa ayat tersebut turun mengenainya: seseorang yang mengerjakan amal-amal saleh dengan niat pamer kepada manusia, bukan demi pahala akhirat.
-
Jenis ketiga: ia melakukan amal-amal saleh untuk mendapatkan harta; misalnya berhaji demi upah, hijrah demi keuntungan dunia atau demi seorang wanita yang ingin dinikahinya, berjihad demi harta rampasan. Jenis ini juga disebutkan dalam tafsir ayat. Demikian pula seseorang belajar ilmu demi membuka sekolah keluarga, demi penghasilan, jabatan, atau ia mempelajari Al-Qur’an dan rajin salat agar memperoleh pekerjaan di masjid—hal seperti ini kerap terjadi.
-
Jenis keempat: ia menaati Allah dengan tulus semata-mata karena-Nya, tanpa menyekutukan-Nya; namun ia berada di atas keyakinan yang membuatnya kafir sehingga keluar dari Islam—seperti kaum Yahudi dan Nasrani ketika mereka beribadah, bersedekah, atau berpuasa untuk mengharap wajah Allah dan negeri akhirat, dan masih banyak lagi yang serupa