atau: “Kemudian Fulan, aku tidak mempunyai siapa-siapa selain Allah kemudian engkau…,” karena huruf penghubung “tsumma” (kemudian) menuntut adanya urutan dan rentetan, serta menunjukkan bahwa kehendak hamba datang sesudah kehendak Allah—Mahatinggi Dia—dan tidak setara dengannya. Hal itu sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Dan kalian tidaklah menghendaki (sesuatu) kecuali bila Allah menghendakinya.” Maka kehendak hamba mengikuti kehendak Allah—Mahatinggi Dia. Seorang hamba, meskipun memiliki kehendak—berbeda dengan kaum Jabariyyah—namun kehendaknya tetap bergantung pada kehendak Allah; ia tidak dapat menghendaki apa pun kecuali jika Allah telah menghendakinya. Ini bertentangan dengan kaum Qadariyyah dari kalangan Mu‘tazilah dan selain mereka yang menetapkan bagi hamba suatu kehendak yang bertentangan dengan apa yang Allah kehendaki. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan.
- Syirik dalam niat dan tujuan
Di antara syirik kecil ialah syirik dalam niat dan maksud, yang disebut juga syirik tersembunyi, seperti riya. Riya sendiri terbagi dua:
A. Riya: kata ini berasal dari “ru’yah” (melihat); maksudnya ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar orang lain melihatnya, lalu memuji pelakunya.
Perbedaan antara riya dan suma‘ah ialah: riya berkaitan dengan amalan yang tampak, seperti salat, sedangkan suma‘ah berkaitan dengan amalan yang terdengar, seperti tilawah, memberi nasihat, atau zikir. Termasuk di dalamnya adalah bila seseorang menceritakan amalannya dan memberitahukannya kepada orang lain.
Allah Ta‘ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian; diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Rabbnya.’”
Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata mengenai makna ayat ini: “Yakni, sebagaimana Allah itu Esa—tidak ada sesembahan selain Dia—maka demikian pula ibadah harus diarahkan kepada-Nya semata tanpa sekutu. Sebagaimana Dia tunggal dalam keilahian, Dia juga harus ditunggal-kan dalam peribadatan. ‘Amal saleh’ adalah amalan yang bersih dari riya dan terikat