Dalam kitab “Al-Mukhtārah” dari ‘Alī r.a. disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai firman Allah, “وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ” artinya: syukur kalian; “أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ,” yaitu ucapan kalian, “Kami diberi hujan oleh naw’ ini dan itu, oleh bintang ini dan itu.”
Syaikh ‘Abdur-Raḥmān bin Ḥasan rahimahullāh berkata, “Inilah tafsir yang paling kuat tentang ayat tersebut; demikian pula diriwayatkan dari ‘Alī, Ibnu ‘Abbās, Qatādah, adh-Ḍaḥḥāk, ‘Aṭā’ al-Khurasānī dan selain mereka, dan itulah pendapat mayoritas ahli tafsir.” Selesai.
Dari Abū Mālik al-Asy‘arī r.a., Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada empat perkara jahiliah yang tetap akan ada pada umatku: berbangga dengan nenek moyang, mencela nasab, meminta hujan dengan (kedudukan) bintang, dan meratap.” Jahiliah di sini maksudnya masa sebelum diutusnya Nabi ﷺ, dan setiap hal yang menyelisihi apa yang beliau bawa pun tergolong jahiliah.
Syaikhul-Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata tentang makna hadis ini, “Beliau mengabarkan bahwa sebagian urusan jahiliah tidak akan ditinggalkan semua manusia, sebagai celaan bagi siapa yang tidak meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa setiap perbuatan jahiliah tercela dalam Islam; kalau tidak, penyandaran kemungkaran-kemungkaran itu kepada jahiliah tidak akan bernilai kecaman. Jelas bahwa penyandaran tersebut dimaksudkan sebagai celaan, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā, ‘Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarruj jahiliah pertama’ (Al-Aḥzāb: 33); ayat ini mencela tabarruj dan keadaan jahiliah pertama, yang menuntut larangan meniru mereka secara umum ….” Selesai.
Sabda beliau ﷺ, “dan meminta hujan dengan bintang,” maksudnya menisbatkan turunnya hujan kepada naw’, yakni ketika bintang terbenam, dengan ucapan, “Kami diguyur hujan oleh bintang ini dan itu.”
Hukum meminta hujan lewat anwā’: jika seseorang meyakini bahwa bintang mempunyai pengaruh dalam menurunkan hujan, maka itu syirik dan kufur besar—keyakinan orang-orang jahiliah. Adapun bila ia tidak meyakini adanya pengaruh pada bintang dan mengakui bahwa yang menurunkan hujan hanyalah Allah semata, tetapi ia mengaitkan kebiasaan turunnya hujan dengan terbenamnya bintang tersebut;