[Saya katakan: Termasuk khurafat batil ialah apa yang disebarkan oleh para penipu pada sebagian surat kabar dan majalah tentang ‘peruntungan’, ‘kesialan’, dan ‘nasib baik’, yang mereka kait-kaitkan dengan hitungan zodiak dan bintang-bintang, lalu dipercayai pula oleh sebagian orang lugu.
Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata dalam Fath al-Majîd: “Apabila dikatakan: ‘Kadang-kadang ahli nujum itu benar,’ dijawab: ‘Kebenarannya sama saja dengan kebenaran seorang dukun; ia benar dalam satu kata namun dusta dalam seratus kata. ‘Benar’-nya bukan karena ilmu, bahkan hanya bertepatan dengan takdir, sehingga menjadi cobaan bagi orang yang membenarkannya.’ ”
Beliau juga berkata: “Telah datang hadis-hadis dari Nabi ﷺ yang membatalkan ilmu perbintangan, seperti sabdanya: ‘Barang siapa mempelajari satu cabang dari ilmu perbintangan, maka ia telah mempelajari satu cabang dari sihir; semakin banyak ia mempelajarinya, semakin besar (dosanya).’ Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Dan dari Rajâ’ bin Haywah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya di antara hal yang paling aku khawatirkan atas umatku ialah: pembenaran terhadap (ramalan) bintang-bintang, pendustaan terhadap takdir, dan kezaliman para imam.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Humayd.”
Adapun menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk arah ketika melakukan perjalanan di darat maupun di laut, maka itu tidak mengapa; bahkan termasuk nikmat Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman-Nya: “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang untuk kalian agar kalian mendapat petunjuk dengannya dalam kegelapan darat dan laut” (QS. al-An‘âm: 97), yakni agar kalian mengetahui arah tujuan kalian—bukan untuk menyingkap perkara gaib sebagaimana diyakini para ahli nujum.
Al-Khathâbi berkata: “Adapun istidlâl (pengambilan petunjuk) dengan bintang untuk mengetahui arah kiblat, maka itu adalah bintang-bintang yang telah diobservasi oleh para pakar dari kalangan imam, yang kita tidak meragukan perhatian mereka terhadap urusan agama, pengetahuan mereka mengenainya, dan kejujuran mereka dalam apa yang mereka kabarkan: misalnya ia menyaksikan bintang itu di hadapan Ka‘bah lalu menyaksikannya ketika jauh darinya; maka mereka memperoleh petunjuk darinya secara penglihatan langsung, sedangkan kita memperolehnya dengan menerima berita mereka, karena di sisi kita mereka tidak tercurigai dalam agama mereka dan tidak pula lalai dalam]