yang memuat permohonan hidayah menuju jalan para ahli tauhid, ﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾—bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang tersesat—yakni mereka yang telah meninggalkan tauhid.
Beliau juga berkata, “Kebanyakan surah dalam Al-Qur’an mencakup dua macam tauhid. Pertama, Al-Qur’an berisi kabar tentang Allah, nama-nama dan sifat-Nya; inilah tauhid pengetahuan dan informasi. Kedua, ia adalah ajakan untuk beribadah hanya kepada-Nya tanpa sekutu, serta mencampakkan segala yang disembah selain-Nya; inilah tauhid kehendak dan tuntutan. Selain itu, Al-Qur’an memuat perintah, larangan, dan kewajiban menaati-Nya—semua ini termasuk hak-hak tauhid dan penyempurnanya. Ia pun mengabarkan pemuliaan Allah kepada para penganut tauhid—apa yang Dia lakukan terhadap mereka di dunia dan apa yang akan Dia anugerahkan kepada mereka di akhirat; itulah balasan tauhid. Dan ia mengabarkan keadaan para pelaku syirik, apa yang Dia timpakan kepada mereka di dunia berupa kehinaan dan apa yang Dia siapkan bagi mereka di akhirat berupa azab; itulah balasan bagi siapa saja yang keluar dari ketentuan tauhid….” Selesai kutipan.
Meski Al-Qur’an sangat besar perhatiannya terhadap akidah Islam, kebanyakan orang yang membacanya tidak memahaminya dengan benar. Akibatnya mereka mencampuradukkan dan keliru di dalamnya, karena mereka sekadar mengikuti apa yang mereka dapati pada nenek moyang mereka dan tidak membaca Al-Qur’an dengan penuh perenungan. Maka tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.