termasuk sihir pula; sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Barang siapa mempelajari satu cabang dari ilmu perbintangan, maka ia telah mempelajari satu cabang dari sihir; semakin banyak ia mempelajarinya, semakin besar (dosanya).” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad sahih, dinyatakan sahih oleh an-Nawawi dan adz-Dzahabi, serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya. Sementara sihir telah diharamkan oleh Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak. Memberitakan peristiwa masa depan lewat istidlāl (menjadikan dalil) pada bintang-bintang adalah klaim mengetahui perkara gaib yang ilmunya Allah sendiri miliki; berarti menyaingi-Nya—Mahasuci Dia—dalam ilmu yang hanya Dia kuasai, atau membenarkan orang yang mengaku-aku demikian. Ini bertentangan dengan tauhid karena mengandung pengakuan batil tersebut.
Al-Khathabi berkata, “Ilmu perbintangan yang terlarang ialah apa yang diklaim para ahli nujum berupa pengetahuan tentang peristiwa dan kejadian yang akan terjadi di masa depan—waktu bertiupnya angin, turunnya hujan, perubahan harga—dan semisalnya. Mereka menyangka hal demikian dapat diketahui melalui pergerakan bintang-bintang pada orbitnya, pertemuan dan perpisahannya; mereka pun menganggapnya berpengaruh terhadap yang ada di bumi. Itu adalah upaya menerka perkara gaib dan mencampuri ilmu yang telah Allah khususkan bagi diri-Nya; tidak ada yang mengetahui gaib selain Dia.”
Al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan bahwa Qatadah berkata, “Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hal: sebagai perhiasan langit, peluru pelempar setan, dan penunjuk arah. Siapa menafsirkannya di luar tiga fungsi itu, sungguh ia keliru, menyia-nyiakan bagiannya, dan memaksakan diri pada apa yang tidak ia ketahui….” Selesai.
Al-Khathib juga meriwayatkan darinya: “Sekelompok orang bodoh tentang urusan Allah telah menjadikan bintang-bintang ini sebagai sarana perdukunan: ‘Siapa menikah pada bintang anu, maka begini-begitu; siapa bepergian pada bintang anu, maka begini-begitu.’ Demi hidupku, tidak ada satu bintang pun melainkan lahir bersamanya orang berkulit merah dan hitam, tinggi dan pendek, tampan dan buruk rupa. Bintang-bintang ini, binatang ini, dan burung ini tidak mengetahui sedikit pun perkara gaib. Seandainya ada makhluk yang mengetahui gaib, niscaya Adam—yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, disuruh malaikat bersujud kepadanya, dan diajari nama segala sesuatu—mengetahuinya….” Selesai.