bahwa keburukan itu bersumber dari sosok yang justru menjadi mata air kebaikan, yakni para rasul—shalawat dan salam bagi mereka. Hal itu tidak lain disebabkan kesesatan yang telah mengakar dalam jiwa mereka dan fitrah yang terbalik; padahal kebaikan dan keburukan sama-sama terjadi karena ketetapan dan takdir Allah, berlangsung sesuai hikmah dan ilmu-Nya sebagai anugerah. Kebaikan adalah karunia dari-Nya sekaligus ganjaran atas ketaatan, sedangkan keburukan adalah keadilan-Nya serta balasan dan hukuman atas kemaksiatan. Allah Ta‘ala berfirman, “Apa pun kebaikan yang menimpamu maka itu dari Allah, dan apa pun keburukan yang menimpamu maka itu dari dirimu sendiri.”
Anggapan sial (tatayyur) termasuk syirik, karena bergantung kepada selain Allah, meyakini datangnya bahaya dari makhluk yang tak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat, berasal dari godaan dan bisikan setan, timbul dari hati yang diliputi rasa takut dan cemas, serta bertentangan dengan tawakal.
Berikut peringatan Rasul ﷺ tentang tatayyur: dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim beliau bersabda, “Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada anggapan sial, tidak ada burung hantu pembawa celaka, dan tidak ada (kesialan pada bulan) Safar.” Beliau juga bersabda, “Tidak ada penularan dan tidak ada anggapan sial; aku menyukai pertanda baik.” Mereka bertanya, “Apakah pertanda baik itu?” Beliau menjawab, “Ucapan yang baik.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dari Ibn Mas‘ud secara marfū‘ disebutkan, “Tatayyur adalah syirik, tatayyur adalah syirik.”
Dalam Shahih Muslim, Mu‘awiyah bin al-Hakam berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Di antara kami ada orang-orang yang melakukan tatayyur.” Beliau menjawab, “Itu hanyalah sesuatu yang kalian rasakan di dalam diri; jangan sampai hal itu menghalangi kalian.” Dengan demikian beliau ﷺ menjelaskan bahwa rasa tersakiti dan pesimisme akibat tatayyur semata-mata ada pada diri dan keyakinan pelakunya, bukan pada sesuatu yang dijadikan pertanda; delusi, rasa takut, dan kesyirikannyalah yang membuatnya mundur karena terpengaruh oleh apa yang ia lihat atau dengar.
Beliau ﷺ menerangkan kepada umatnya kerusakan tatayyur agar mereka mengetahui bahwa Allah Yang Mahasuci tidak menjadikan padanya tanda apa pun, petunjuk apa pun, serta tidak menentukannya sebagai sebab bagi apa yang mereka takuti; sehingga hati mereka tenang dan jiwa mereka tentram pada keesaan-Nya—Mahatinggi Dia—yang karenanya Dia mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan menciptakan langit serta bumi. Dengan itu, tercabutlah ikatan syirik dari hati mereka. Maka siapa yang berpegang teguh pada tali tauhid yang kuat, berlindung pada tali-Nya yang kokoh, dan bertawakal