[Dan jimat-jimat itu ada yang terbuat dari tulang, ada yang dari manik-manik, ada pula yang berupa tulisan dan lain-lain; semuanya tidak diperbolehkan.
Kadang yang digantung itu berupa (ayat-ayat) Al-Qur’an. Apabila berupa Al-Qur’an, para ulama berselisih antara membolehkan dan melarangnya. Pendapat yang lebih kuat menyatakan tidak boleh, sebagai tindakan menutup pintu (kepada kesyirikan), karena hal itu akan mengantarkan kepada menggantungkan selain Al-Qur’an. Lagi pula, tidak ada pengecualian di dalam nash-nash yang melarang penggunaan jimat, seperti hadits Ibnu Mas‘ud, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ruqyah, jimat, dan tiwalah adalah syirik,’” diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Demikian pula hadits ‘Uqbah bin ‘Amir secara marfu‘: “Barang siapa menggantungkan jimat, sungguh ia telah berbuat syirik.” Teks-teks ini bersifat umum dan tidak ada pengecualian baginya.
- Bertabarruk dengan pepohonan, peninggalan, dan bangunan: yang dimaksud tabarruk ialah meminta, mengharap, serta meyakini adanya berkah pada benda-benda tersebut.
Hukumnya adalah syirik besar, karena menggantungkan keberkahan kepada selain Allah Ta‘ala. Para penyembah berhala dahulu pun mencari berkah dari berhala-berhala mereka; maka bertabarruk kepada kubur orang-orang saleh sama dengan bertabarruk kepada al-Lāt, dan bertabarruk kepada pohon-pohon serta batu-batu sama dengan bertabarruk kepada al-‘Uzzā dan Manāt.
Dari Abu Waqid al-Laitsī رضي الله عنه ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ menuju Ḥunain, padahal kami baru saja meninggalkan kekufuran. Kaum musyrik memiliki sebuah pohon bidara yang mereka kerumuni dan tempat mereka menggantungkan senjata, yang disebut Dzātu Anwāṭ. Ketika kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka mempunyai Dzātu Anwāṭ.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allāhu Akbar, itulah sunnah (orang-orang terdahulu)! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan.” (al-A‘rāf: 138). Sungguh kalian akan menempuh jalan orang-orang sebelum kalian.’” Diriwayatkan oleh at-Tirmiżī dan ia mensahihkannya.
- Sihir: yaitu sesuatu yang tersembunyi dan halus sebabnya; ia dinamakan sihir karena terjadi melalui hal-hal gaib yang tidak…]