dan dunia pun berada di belakang punggungnya; maka kesaksian yang murni itu menjadi penutup amalnya, membersihkannya dari dosa-dosanya dan memasukkannya ke hadapan Rabb-nya, karena ia menemui Rabb-nya dengan satu kesaksian yang jujur dan tulus, lahiriahnya sejalan dengan batinnya, rahasianya sama dengan yang tampak.
Seandainya kesaksian itu ia ucapkan dalam keadaan seperti ini ketika masih sehat, niscaya ia merasa asing terhadap dunia beserta penghuninya, lari kepada Allah menjauhi manusia, dan hanya merasa akrab dengan-Nya semata. Namun ia mengucapkannya sementara hatinya dipenuhi syahwat, kecintaan kepada hidup beserta segala sebabnya, dan jiwanya sarat keinginan menikmati bagian-bagiannya serta menoleh kepada selain Allah. Seandainya ia dapat melepaskan diri sebagaimana ia terlepas saat ajal tiba, niscaya kisah dan kehidupannya akan lain—bukan hidup kebinatangan seperti yang dijalaninya.
Dan hanya Allah lah tempat memohon pertolongan.
Apa yang masih dapat dikuasai oleh seseorang atas urusannya sendiri, sedangkan ubun-ubunnya berada di tangan Allah, dirinya di tangan-Nya, hatinya di antara dua jari dari jari-jari-Nya—Dia membolak-balikkannya sesuka-Nya—hidupnya di tangan-Nya, matinya di tangan-Nya, kebahagiaannya di tangan-Nya, kesengsaraannya di tangan-Nya, gerak dan diamnya, ucapan serta perbuatannya hanya dengan izin dan kehendak-Nya? Ia tidak bergerak kecuali dengan izin-Nya, tidak berbuat kecuali dengan kehendak-Nya. Bila Dia menyerahkannya kepada dirinya sendiri, Dia menyerahkannya kepada kelemahan, kehinaan, kelalaian, dosa dan kesalahan. Bila Dia menyerahkannya kepada selain-Nya, Dia menyerahkannya kepada yang tidak memiliki kemampuan mendatangkan mudarat, manfaat, kematian, kehidupan, maupun kebangkitan baginya. Bila Dia meninggalkannya, musuhnya akan menguasainya dan menjadikannya tawanan. Maka ia sama sekali tidak bisa lepas dari-Nya walau sekejap mata; bahkan ia sangat membutuhkan-Nya sepanjang tarikan napasnya, pada setiap zarah dirinya, lahir dan batin—kebutuhannya kepada-Nya sempurna. Namun ia justru tertinggal dari-Nya, berpaling dari-Nya, membuat-Nya murka dengan kemaksiatannya, padahal ia sangat memerlukan-Nya dari segala sisi. Ia telah melupakan zikir kepada-Nya dan menempatkan-Nya di belakang punggungnya, padahal—kepada-Nya lah ia akan kembali dan di hadapan-Nya lah ia akan berdiri?!