semakin sempurna dengan sampai kepada-Nya, berdekatan dengan-Nya, memandang wajah-Nya, dan mendengar firman-Nya. Semua kenikmatan, kesenangan, kegembiraan, dan keriangan selain itu hanyalah setetes air di lautan.
Maka bagaimana mungkin orang berakal menukar kenikmatan yang lemah, singkat, dan tercampur derita dengan kenikmatan yang agung, abadi, selama-lamanya?!
Kesempurnaan seorang hamba bergantung pada dua daya: ilmu dan cinta. Ilmu yang paling utama adalah mengenal Allah, cinta yang paling tinggi adalah mencintai-Nya, dan kenikmatan yang paling sempurna sebanding dengan keduanya.
Allah-lah tempat memohon pertolongan.
Kaidah
Penempuh jalan menuju Allah dan negeri akhirat tidak akan lurus perjalanan dan pencariannya kecuali dengan dua pengekangan: mengekang hatinya agar terus mencari tujuan dan yang dituju, serta menahannya dari menoleh kepada selain-Nya; dan mengekang lisannya dari hal yang tidak bermanfaat, sekaligus menahannya untuk selalu mengingat Allah dan memperbanyak apa yang menambah iman dan ma’rifatnya; juga mengekang anggota tubuhnya dari maksiat dan syahwat, serta menahannya untuk melaksanakan kewajiban dan amalan yang dianjurkan. Ia tidak berpisah dari penjara ini sampai bertemu Rabb-nya; saat itu ia keluar dari penjara menuju ruang yang paling lapang dan paling indah.
Apabila ia tidak sabar terhadap dua pengekangan ini lalu melarikan diri ke lapangan syahwat, maka akibatnya adalah penjara yang dahsyat tatkala ia keluar dari dunia.
Setiap orang yang keluar dari dunia: ada yang terbebas dari penjara, dan ada yang berjalan menuju penjara.
Dan hanya dengan Allah-lah taufik.
Ibnu ‘Aun berpamitan kepada seseorang dan berkata, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah; karena orang yang bertakwa tidak …”