akhirat.
Ketika Firaun pun bergegas memohon pertolongan kepada-Nya pada saat menyaksikan kebinasaan dan sadar bahwa ia akan ditelan gelombang, hal itu sama sekali tidak berguna baginya; sebab iman yang baru muncul ketika ajal sudah terpampang tidaklah diterima.
Demikianlah sunnatullah atas hamba-hamba-Nya; tidak ada yang dapat menolak kesulitan dunia seampuh tauhid. Karena itu, doa dalam kesempitan berisi tauhid (1), dan seruan Dzu’n-Nun—yang tidak pernah dipanjatkan oleh seorang yang tertimpa kesusahan melainkan Allah menghilangkan kesusahannya—juga berlandaskan tauhid (2).
Tidak ada yang menjerumuskan ke dalam kesempitan besar selain syirik, dan tidak ada yang menyelamatkan darinya selain tauhid; dialah tempat lari seluruh makhluk, perlindungan, benteng, dan penolong mereka.
Dan taufik semata-mata dari Allah.
Faedah
Kenikmatan bergantung pada cinta; ia menguat sekuat cinta dan melemah selemah cinta. Maka, semakin kuat keinginan dan kerinduan kepada yang dicinta, semakin sempurna pula kenikmatan tatkala berjumpa dengannya.
Adapun cinta dan kerinduan bergantung pada pengenalan dan pengetahuan tentangnya; semakin sempurna pengetahuan itu, semakin sempurna pula cintanya.
Maka apabila kesempurnaan kenikmatan di akhirat dan kesempurnaan kelezatan bertumpu pada ilmu dan cinta, siapa yang paling mengenal Allah, nama-nama, sifat-sifat, dan agama-Nya, dialah yang paling mencintai-Nya, dan kenikmatannya