[• Pelanlah, wahai telapak-telapak tunggangan; karena di bawahmu sedang terinjak kening-kening dan pipi-pipi. (1)
• Siapa yang mengintip manisnya keselamatan, akan ringan baginya pahitnya kesabaran. (2)
• Tujuan: paling awal dalam takdir, paling akhir dalam wujud; titik mula di mata akal, titik akhir di pos-pos pencapaian.
• Engkau telah terbiasa dengan ketidakberdayaan kebiasaan; seandainya tekadmu terangkat ke puncak-puncak kemuliaan, niscaya cahaya keteguhan akan tampak.
• Sesungguhnya manusia berbeda karena kemauan, bukan karena rupa.
• Rendahnya semangat si pincang menjerumuskannya ke lubang kotoran.
• Antaramu dan para pemenang terbentang gunung hawa; mereka singgah di depannya, engkau berhenti di belakangnya. Lipatlah satu tingkat perjalanan, maka engkau akan menyusul mereka.
• Dunia adalah arena pacuan; debu telah bergumpal, sang pelaju terdepan tak tampak; orang-orang di lintasan ada yang menunggang kuda, ada yang berjalan kaki, dan ada pula yang menunggang keledai pincang.
Kelak engkau akan melihat, ketika debu telah sirna:
apakah yang berada di bawahmu seekor kuda atau keledai? (3)
• Dalam tabiat tersimpan kerakusan, dan dietlah yang lebih tepat.
• Pencuri keserakahan hanya berjalan dalam gelapnya hawa nafsu.
• Biji kenikmatan terletak di bawah jerat kebinasaan; renungkanlah penyembelihan itu, niscaya ia menjadi remeh.]