[Fasal
• Dunia bagaikan seorang perempuan jalang yang tak pernah betah bersuami; ia merayu para lelaki hanya agar dirinya dipuji melalui mereka. Maka janganlah engkau rela menjadi lelaki tanpa rasa cemburu.
Kucermati keelokan parasnya dan kelakuannya; ternyata keelokan itu tak sanggup menebus keburukannya.
Ia bersumpah kepada kami takkan mengkhianati janji-janji kami; seakan-akan ia bersumpah takkan pernah menepatinya.¹
Berjalan mengejarnya laksana menapaki tanah yang dipenuhi binatang buas,² dan berenang di dalamnya bagaikan berenang di kubangan buaya. Segala yang dibanggakan darinya persis sama dengan yang disesali; deritanya lahir dari kenikmatannya, kesedihannya dari kegembiraannya.
Keinginan-keinginan yang pada masa muda terasa nikmat bagi pelakunya, di masa tua berubah menjadi siksa.³
• Burung naluri hanya melihat butir umpan, sedangkan mata akal melihat jerat; namun mata hawa nafsu itu buta.
Mata ridha tidak awas terhadap tiap cela, sebagaimana mata murka menampakkan segenap keburukan.⁴
• Syahwat telah diperindah di depan mata naluri, maka orang-orang yang beriman kepada yang gaib pun menundukkan pandangan darinya, sedangkan para pengikut syahwat terjerumus ke padang penyesalan; merekalah yang “berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”⁵ Kepada mereka dikatakan, “Makanlah…]