[…sehelai kain bergaris yang kasar, lalu ia membelahnya demi perjalanan perjumpaan menjadi dua bagian; salah satunya ia jadikan sarung, sedang yang lain ia selendangkan di pundaknya. Ketika penyeru jihad berseru, ia rela berada di barisan paling belakang para kekasih—dan seorang pecinta tak pernah memedulikan jauhnya perjalanan, karena tujuan itulah yang menolongnya.
Ala, semoga Allah menyampaikan ke Tanah Suci orang yang merindukannya … dan menyampaikan ke pinggiran Tanah Suci orang yang mendambakannya.¹
Tatkala ia menunaikan nazarnya dan wafat, Rasul pun turun sendiri menyiapkan liang lahadnya seraya berkata, “Ya Allah, petang ini aku ridha kepadanya; maka ridhailah dia.”² Ibnu Mas‘ud pun berseru, “Andaikan aku yang menjadi penghuni kubur itu!”
Wahai engkau yang lembek tekadnya! Bidak adalah buah catur yang paling rendah; namun ketika ia maju, ia berubah menjadi farzan (menteri).³
• Seorang bijak melihat seekor kuda pekerja yang dipakai menimba air, lalu berkata, “Seandainya ia berjingkrak anggun, niscaya ia akan ditunggangi.”
• Bila langkah tekad telah berniat menempuh jalan, bendungan halangan pun terbelah di hadapannya.⁴
• Halangan adalah cobaan yang membedakan yang jujur dari yang dusta; bila engkau menerjangnya, ia justru berbalik menjadi penolong yang mengantarkanmu ke tujuan. ]