Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[…sehelai kain bergaris yang kasar, lalu ia membelahnya demi perjalanan perjumpaan menjadi dua bagian; salah satunya ia jadikan sarung, sedang yang lain ia selendangkan di pundaknya. Ketika penyeru jihad berseru, ia rela berada di barisan paling belakang para kekasih—dan seorang pecinta tak pernah memedulikan jauhnya perjalanan, karena tujuan itulah yang menolongnya.

Ala, semoga Allah menyampaikan ke Tanah Suci orang yang merindukannya … dan menyampaikan ke pinggiran Tanah Suci orang yang mendambakannya.¹

Tatkala ia menunaikan nazarnya dan wafat, Rasul pun turun sendiri menyiapkan liang lahadnya seraya berkata, “Ya Allah, petang ini aku ridha kepadanya; maka ridhailah dia.”² Ibnu Mas‘ud pun berseru, “Andaikan aku yang menjadi penghuni kubur itu!”

Wahai engkau yang lembek tekadnya! Bidak adalah buah catur yang paling rendah; namun ketika ia maju, ia berubah menjadi farzan (menteri).³

• Seorang bijak melihat seekor kuda pekerja yang dipakai menimba air, lalu berkata, “Seandainya ia berjingkrak anggun, niscaya ia akan ditunggangi.”
• Bila langkah tekad telah berniat menempuh jalan, bendungan halangan pun terbelah di hadapannya.⁴
• Halangan adalah cobaan yang membedakan yang jujur dari yang dusta; bila engkau menerjangnya, ia justru berbalik menjadi penolong yang mengantarkanmu ke tujuan. ]

(1) Bait tersebut tidak disebutkan penulisnya dalam Al-Mudhayyish (hlm. 177). (2) Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana terdapat dalam Sirah Ibnu Hisyam (4/235) dan Abu Nu‘aim dalam Al-Hilyah (1/122); sanadnya terputus. Ada jalur-jalur lain yang disebutkan oleh Al-Hafizh dalam Al-Ishâbah (2/338) yang saling menguatkan. (3) Al-baydaq dalam bidak catur setara dengan prajurit, sedangkan al-farzan setara dengan wazir (menteri). Maksudnya, siapa yang bersungguh-sungguh mencari, akan mencapai tujuan. (4) Tambahan ini berasal dari Al-Mudhayyish (hlm. 176), dan dengannya susunan kalimat menjadi sempurna.
بِجادًا، فقطعَهُ لسفرِ الوصل نصفين؛ اتَّزرَ بأحدِهِما وارتدى بالآخر، فلما نَادى صائحُ الجهاد؛ قنِعَ أن يكون في ساقةِ الأحباب، والمحبُّ لا يرى طولَ الطريق؛ لأنَّ المقصودَ يُعينُهُ. ألا بَلَّغَ اللَّهُ الحِمى مَنْ يُريدُهُ … وبَلَّغَ أكْنافَ الحِمى مَنْ يُريدُها (١) فلما قضى نَحْبَهُ نزل الرسولُ يُمهِّدُ له لَحْدَهُ، وجعل يقولُ: "اللهمَّ! إنِّي أمْسَيتُ عنهُ راضيًا؛ فارْضَ عنْهُ" (٢). فصاحَ ابنُ مسعودٍ: يا ليتني كنتُ صاحبَ القبرِ. فيا مُخَنَّثَ العزم! أقلُّ ما في الرقعةِ البَيْذَقُ، فلمَّا نَهَضَ تفَرْزَن (٣). • رأى بعضُ الحكماءِ بِرْذَوْنًا يُسْقَى عليه، فقال: لو هَمْلَجَ هذا لَرُكِبَ. • [متى همَّتْ] (٤) أقدامُ العزم بالسُّلوكِ انْدَفَع من بينِ أيديها سدُّ القواطع. • القواطعُ مِحَنٌ يتبيَّنُ بها الصادقُ من الكاذبِ؛ فإذا خُضْتَها انقلبتْ أعوانًا لك توصِلُك إلى المقصودِ.
(١) البيت بلا نسبة في المدهش (ص ١٧٧). (٢) أخرجه ابن إسحاق كما في سيرة ابن هشام (٤/ ٢٣٥) وأبو نعيم في الحلية (١/ ١٢٢)، وإسناده منقطع. وله طرق أخرى ذكرها الحافظ في الإصابة (٢/ ٣٣٨) يشدّ بعضها بعضًا. (٣) البيذق بمنزلة الجندي في حجارة الشطرنج، والفرزن بمنزلة الوزير. والمراد أن من اجتهد في الطلب أدرك المقصود. (٤) الزيادة من المدهش (ص ١٧٦)، وبها يستقيم الكلام.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie