[• Cahaya akal menyala di malam hawa nafsu; maka tampaklah jalan kebenaran, dan orang yang tajam pandangannya pun meneropong akibat segala perkara dalam cahaya itu.
• Keluarlah dengan tekad bulat dari halaman sempit yang dipenuhi bencana ini menuju halaman luas yang di dalamnya terdapat apa-apa yang belum pernah dipandang mata; di sana tak ada keinginan yang sulit diraih dan tak ada kecintaan yang hilang.
• Wahai penjual dirinya kepada hawa—cintanya hanya membuat merana, pertemuannya menyakitkan, keelokannya akan sirna! Engkau telah menjual sesuatu yang paling berharga dengan harga yang amat murah!! Seolah-olah engkau tidak mengenal nilai dagangan itu maupun hinanya bayaran!! Hingga ketika engkau datang pada Hari Penyesalan, tampaklah kerugian dalam akad jual-belimu. “La ilaha illa Allah” adalah barang dagangan; Allah pembelinya; harganya surga; dan makelarnya Rasul—engkau rela menjualnya demi secuil saja dari sesuatu yang keseluruhannya pun tak sebanding dengan sehelai sayap nyamuk (1)?!
Jika sesuatu yang keseluruhannya … tak sebanding dengan sayap nyamuk di sisi Dia yang kini engkau jadikan tuan,
lalu secuil darinya menguasai dirimu seluruhnya—berapa kiranya … nilai dirimu di hadapan-Nya dalam keadaan demikian?
Dan engkau menjual karenanya jiwa yang telah Ia tawar … dengan segala kebaikan di sisi-Nya, padahal kasih itu telah sirna (2).
• Wahai si lembek tekad! Di manakah engkau—sedang jalan ini adalah jalan yang telah melelahkan Adam, membuat Nuh meratap, Ibrahim dicampakkan ke dalam api, Ismail dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual murah lalu mendekam di penjara beberapa tahun, Zakaria digergaji, sang penjaga kesucian Yahya disembelih, Ayub menanggung derita—bahkan ujian itu melampaui batas …]