atau hadis, atau ilmu—terutama apabila ilmu itu tidak dibutuhkan—, juga berlomba-lomba memperbanyak buku, karya tulis, banyaknya persoalan, percabangannya, dan penurunannya. Berlomba-lomba itu terjadi ketika seseorang ingin memiliki lebih banyak daripada orang lain, dan hal ini tercela kecuali pada perkara-perkara yang mendekatkan diri kepada Allah; sebab di sanalah perlombaan menjadi kompetisi dalam kebaikan dan saling berlomba meraihnya.
Dalam Shahih Muslim, dari riwayat ‘Abdullāh bin asy-Syikhkhīr, ia datang kepada Nabi ﷺ sementara beliau membaca: “Alhākumut-takāthur.” Beliau bersabda, “Anak Adam berkata: ‘Hartaku! Hartaku!’ Padahal apakah hartamu itu selain apa yang engkau sedekahkan lalu engkau jalankan, atau yang engkau makan lalu engkau habiskan, atau yang engkau pakai lalu engkau usangkan?”
Tanbih (Peringatan)
• Barangsiapa tidak mengambil pelajaran dengan matanya, ia tidak akan mengambil pelajaran dengan telinganya.
• Seorang hamba mempunyai tabir antara dirinya dengan Allah dan tabir antara dirinya dengan manusia; barang siapa merobek tabir yang ada antara dirinya dengan Allah, Allah akan merobek tabir yang ada antara dirinya dengan manusia.
• Seorang hamba mempunyai Rabb yang kelak ia temui dan rumah yang kelak ia huni; maka hendaknya ia meraih keridaan Rabb-nya sebelum perjumpaan itu dan memakmurkan rumahnya sebelum ia berpindah ke dalamnya.
• Menyia-nyiakan waktu lebih keras daripada kematian; sebab menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutusmu dari dunia dan para penghuninya.
• Dunia dari awal sampai akhir tidak sebanding dengan kesedihan satu jam; bagaimana pula dengan kesedihan seumur hidup?
• Kecintaan hari ini berbuah kebencian esok, dan kebencian hari ini berbuah