[dan kesabaran adalah kunci rahasia bagi harta karun perjumpaan dengan Kami; siapa yang berhasil memecahkan kunci rahasia ini, ia akan memperoleh harta karunnya.
Dan taufik hanyalah milik Allah.
Faedah
Firman Allah Ta‘ala: “Melalaikan kalian (berlomba-lomba) memperbanyak (harta)” hingga akhir surah (At-Takatsur: 1).
Surah ini dikhususkan untuk janji, ancaman, dan peringatan; cukuplah ia menjadi pelajaran bagi siapa yang mau memikirkannya.
Firman-Nya: “melalaikan kalian” berarti menyibukkan kalian dengan cara yang tidak dapat kalian jadikan alasan; sebab melalaikan sesuatu artinya menyibukkan diri darinya. Jika dilakukan dengan sengaja, ia berada dalam ranah taklif; namun bila tanpa sengaja—sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang selendang bermotif: “Tadi ia membuatku lalai dari salatku” (1)—pelakunya dimaafkan; hal itu termasuk jenis kelupaan. Dalam hadis disebutkan pula: “maka Rasulullah ﷺ terlalaikan dari anak kecil” (2), maksudnya: beliau teralihkan darinya. Dikatakan, “lahā bisy-syay’i” artinya sibuk dengannya, dan “lahā ‘anhu” artinya berpaling darinya. Lahw (kelalaian) berkenaan dengan hati, sedangkan la‘ib (main-main) berkenaan dengan anggota badan; karena itu keduanya biasanya digandengkan. Maka ungkapan “melalaikan kalian berlomba-lomba memperbanyak” lebih keras kecamannya daripada “menyibukkan kalian”, sebab seseorang mungkin saja menggunakan anggota badannya untuk suatu pekerjaan sementara hatinya tidak terlalaikan; sedangkan lahw mengandung makna tenggelam dan berpaling.
Adapun at-takāthur adalah pola tafā‘ul dari kata kathrah (banyak), yaitu saling berlomba untuk lebih banyak daripada yang lain. Allah tidak menyebutkan apa yang diperlombakan agar lafaznya bersifat umum: segala sesuatu yang dijadikan hamba ajang adu banyak—selain ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa pun yang bermanfaat bagi akhiratnya—termasuk dalam larangan ini. Maka berlomba-lomba memperbanyak itu mencakup segala hal: harta, kedudukan, jabatan, atau perempuan, …]