[yang tidak bermanfaat, maka tidak tersisa di dalamnya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah serta mengenal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hukum-hukum-Nya.
Rahasia hal ini ialah bahwa pendengaran hati itu serupa dengan pendengaran telinga: apabila ia condong untuk mendengarkan selain firman Allah, maka tidak ada lagi di dalamnya pendengaran dan pemahaman terhadap firman-Nya; sebagaimana bila ia condong kepada selain cinta Allah, maka tidak ada lagi kecenderungan di dalamnya kepada cinta-Nya; dan apabila hati berbicara dengan selain zikir kepada-Nya, maka tidak ada lagi tempat di dalamnya untuk berbicara dengan zikir kepada-Nya—seperti halnya lisan.
Karena itu, dalam hadis sahih (1) Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh, jika rongga salah seorang di antara kalian dipenuhi nanah hingga menembus (tubuhnya), itu lebih baik baginya daripada rongganya dipenuhi syair.” Beliau menegaskan bahwa rongga itu memang dapat dipenuhi syair.
Demikian pula ia dapat dipenuhi syubhat, keraguan, khayalan, perkiraan-perkiraan (2) yang sama sekali tidak ada, ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, senda-gurau, candaan, kisah-kisah, dan semacamnya.
Apabila hati telah dipenuhi oleh semua itu, lalu datanglah hakikat-hakikat Al-Qur’an dan ilmu yang membawa kesempurnaan serta kebahagiaannya; keduanya tidak menemukan ruang kosong maupun penerimaan di dalamnya. Maka keduanya melewatinya dan berpindah ke tempat lain—sebagaimana nasihat yang diberikan kepada hati yang sudah penuh dengan kebalikannya sehingga tidak ada celah; ia tidak akan menerimanya dan nasihat itu tidak dapat masuk, melainkan hanya sekadar lewat tanpa menetap.
Karena itu dikatakan (3):
“Bersihkanlah hatimu dari selain Kami, niscaya engkau akan menjumpai Kami;
Sebab pelataran Kami halal bagi setiap insan yang mensucikan diri.”]