padanya rupa dunia yang rendah beserta kecintaannya, keinginannya, dan keterikatannya, sehingga hati itu menjadi sempit, gelap, dan jauh dari kesempurnaan serta keberhasilannya. Hingga akhirnya, hati-hati itu terbagi menjadi dua macam: (1) hati yang merupakan ‘Arsy ar-Raḥmān; di dalamnya terdapat cahaya, kehidupan, kegembiraan, kesenangan, kebahagiaan, dan segala simpanan kebaikan. (2) hati yang menjadi ‘arsy setan; di dalamnya terdapat kesempitan, kegelapan, kematian, kesedihan, kegelisahan, dan kecemasan—ia bersedih atas apa yang telah berlalu, cemas terhadap apa yang akan datang, dan gundah pada saat ini.
At-Tirmidzi dan selainnya meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apabila cahaya memasuki hati, maka hati itu akan menjadi lapang dan tenang.” Mereka bertanya, “Apakah tandanya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Tandanya ialah) kembali menuju negeri keabadian, menjauh dari negeri tipuan, serta bersiap menghadapi kematian sebelum ia tiba.”
Cahaya yang memasuki hati hanyalah pancaran dari matsalul-a‘lā; karena itulah hati menjadi lapang dan tenang. Jika di dalamnya tidak ada ma‘rifat kepada Allah dan cinta kepada-Nya, maka bagian hatinya hanyalah kegelapan dan kesempitan.
Faedah
Renungkanlah petikan-petikan al-Qur’an: engkau akan mendapati seorang Raja yang memiliki seluruh kerajaan dan seluruh pujian; kendali segala urusan ada di tangan-Nya, semuanya bermula dari-Nya dan kembali kepada-Nya; Dia bersemayam di atas singgasana kerajaan-Nya; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya di pelosok kerajaan-Nya; Dia mengetahui apa yang ada di dalam jiwa hamba-hamba-Nya, menyaksikan rahasia dan yang terang-terangan dari mereka; sendirian mengatur seluruh kerajaan; Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,