Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[• Adapun ucapannya, “Hukum-Mu berlaku atasku, keputusan-Mu adil bagiku,” memuat dua hal: pertama, berlakunya hukum-Nya atas seorang hamba; kedua, kandungan pujian dan penegasan keadilan-Nya—Mahasuci Dia, milik-Nyalah kerajaan dan segala pujian.

Ini pula makna perkataan Nabi Hûd: “Tiada satu makhluk pun melainkan Dia menggenggam ubun-ubunnya,” kemudian beliau menambahkan, “Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus” (Hûd: 56); maksudnya, walaupun Dia adalah Pemilik, Penguasa, dan Pengendali hamba-hamba-Nya—ubun-ubun mereka di tangan-Nya—Dia tetap berada di jalan yang lurus, yakni keadilan yang dengannya Dia memperlakukan mereka. Dia berada di jalan yang lurus dalam firman-Nya, perbuatan-Nya, putusan-Nya, takdir-Nya, perintah-Nya, larangan-Nya, pahala-Nya, dan siksa-Nya: seluruh berita-Nya benar, seluruh keputusan-Nya adil, seluruh perintah-Nya maslahat, segala larangan-Nya mafsadat. Pahala-Nya diberikan kepada siapa yang berhak menerimanya berkat karunia dan rahmat-Nya, sedangkan siksa-Nya ditimpakan kepada siapa yang layak mendapatkannya dengan keadilan dan hikmah-Nya.

Beliau membedakan antara hukum (ḥukm) dan keputusan (qaḍâ’), menjadikan keberlakuan untuk hukum dan keadilan untuk keputusan.

Hukum-Nya mencakup hukum syar‘i (agama) dan hukum kauni (takdir); keduanya sama-sama berlaku atas diri hamba, ia tunduk di bawah keduanya—suka atau tidak suka. Hukum kauni mustahil ia langgar, sedangkan hukum syar‘i terkadang ia langgar.

Karena keputusan (qaḍâ’) berarti penyempurnaan dan penuntasan—sesuatu yang terwujud setelah hukum berlaku dan terlaksana—maka dikatakan: “Keputusan-Mu adil bagiku”; maksudnya, hukum yang Engkau sempurnakan, tuntaskan, dan jalankan atas hamba-Mu adalah keadilan dari-Mu baginya.

Adapun hukum (ḥukm) ialah apa saja yang Allah tetapkan; Dia boleh menghendaki pelaksanaannya ataupun tidak. Bila itu hukum syar‘i, maka ia berlaku atas hamba; bila hukum kauni, maka—]

(1) Dalam naskah asli: "نافذة … ماضية".
• وقوله: "ماضٍ فيَّ حُكْمُكَ، عدْلٌ فِيَّ قضاؤكَ": تضمَّنَ هذا الكلامُ أمرينِ: أحدُهُما: مضاءُ حكمِهِ في عبدِهِ. والثاني: يتضمَّن حمدَه وعدلَه، وهو سبحانه له المُلْكُ وله الحمدُ. وهذا معنى قولِ نبيِّهِ هودٍ: ﴿مَا مِنْ دَابَّةٍ إلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا﴾، ثم قال: ﴿إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٥٦)﴾؛ أي: مع كونِهِ مالكًا قاهرًا متصرِّفًا في عبادِهِ نواصيهم بيدِهِ؛ فهو على صراطٍ مستقيم، وهو العدلُ الذي يتصرَّفُ بِهِ فيهم؛ فهو على صراطٍ مستقيم في قولِهِ وفعلِهِ وقضائِهِ وقَدَرِهِ وأمرِهِ ونهيِهِ وثوابِهِ وعقابِهِ، فخبرُهُ كلُّه صدقٌ، وقضاؤُهُ كلُّه عدلٌ، وأمرُهُ كلُّه مصلحةٌ، والذي نهى عنه كلُّهُ مفسدةٌ، وثوابُهُ لمنْ يَستحقُّ الثوابَ بفضلِهِ ورحمتِه، وعقابُهُ لمن يَستحقُّ العقابَ بعدلِهِ وحِكمتِهِ. وفرَّقَ بين الحكم والقضاءِ، وجَعَلَ المَضاءَ للحكم والعدلَ للقضاءِ: فإن حُكْمَهُ سبحانه يتناولُ حُكْمَهُ الدينيَّ الشرعيَّ وحكمَهُ الكونيَّ القدريَّ، والنوعانِ نافذان في العبدِ ماضيان (١) فيه، وهو مقهورٌ تحت الحكمين، قد مضيا فيه ونفذا فيه شاء أم أبي، لكن الحكمُ الكونيُّ لا يُمْكِنُهُ مخالفتُهُ، وأما الدينيُّ الشرعيُّ فقد يخالِفُه. ولما كان القضاءُ هو الإتمامُ والإكمالُ، وذلك إنما يكون بعد مُضيِّه ونفوذِهِ؛ قال: "عَدْلٌ فيَّ قضاؤك"؛ أي: الحكمُ الذي أكملتَهُ وأتممتَهُ ونفَّذْتَهُ في عبدِكَ عدلٌ منك فيه. وأما الحكمُ فهو ما يَحْكُمُ به سبحانه، وقد يشاءُ تنفيذَه وقد لا يُنَفِّذُهُ؛ فإنْ كان حُكمًا دينيًّا، فهو ماضٍ في العبدِ، وإنْ كان كونيًّا؛ فإن
(١) في الأصل: "نافذة … ماضية".

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie