Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

• Di dalamnya juga tersirat bahwa aku tidak berhak bertindak atas harta dan diriku—yang telah Engkau amanahkan kepadaku—melainkan dengan perintah-Mu; sebagaimana seorang budak tidak bertindak kecuali dengan izin tuannya; dan bahwa aku sama sekali tidak kuasa mendatangkan mudarat atau manfaat bagi diriku sendiri, begitu pula kematian, kehidupan maupun kebangkitan.

• Apabila kesaksian semacam ini benar-benar hadir dalam diri seseorang, maka sungguh ia telah berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu” dalam arti yang sebenar-benarnya.

• Selanjutnya ia mengucapkan, “Ubun-ubunku berada di tangan-Mu,” yakni: Engkaulah yang sepenuhnya mengatur diriku, membolak-balikku sesuai kehendak-Mu; aku sama sekali tidak mengatur diriku sendiri.

Bagaimanakah mungkin seseorang mengaku mempunyai wewenang atas dirinya, padahal dirinya berada di tangan Rabb dan Tuannya; ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Nya; hatinya berada di antara dua jari dari jemari-Nya (1); kematian, kehidupan, kebahagiaan, kesengsaraan, kesehatan, dan ujian—semuanya berada di sisi-Nya semata, bukan di tangan hamba sedikit pun. Bahkan ia berada dalam genggaman Tuannya lebih lemah daripada seorang budak yang hina dan lemah, ubun-ubunnya di tangan seorang raja yang perkasa lagi berkuasa atasnya; bahkan perkara ini jauh lebih dahsyat daripada itu!

Apabila seorang hamba menyaksikan bahwa ubun-ubunnya—dan ubun-ubun seluruh manusia—berada di tangan Allah semata yang mengatur mereka sekehendak-Nya, niscaya ia tidak akan lagi takut ataupun berharap kepada mereka, dan tidak akan menempatkan mereka pada martabat pemilik, melainkan pada martabat hamba-hamba yang tertundukkan dan dikuasai, yang di atas mereka ada Pengatur selain mereka dan Pengelola selain mereka.

Siapa yang memandang dirinya dengan pandangan semacam ini, rasa fakir dan butuhnya kepada Rabb-nya akan melekat padanya; dan siapa yang memandang manusia dengan cara demikian, ia tidak akan bergantung kepada mereka dan tidak akan menggantungkan harapan serta angan-angannya kepada mereka. Dengan demikian, tauhid, tawakal, dan pengabdiannya menjadi lurus.

Karena itulah Nabi Hûd berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada satu makhluk pun melainkan Dia menggenggam ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus” (Hûd: 56).

(1) Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 2654) dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash.
وفيه أيضًا: أنِّي لا أتصرَّف فيما خوَّلْتَني من مالي ونفسي إلا بأمرك؛ كما لا يتصرَّفُ العبدُ إلا بإذنِ سيِّدِهِ، وأنِّي لا أملكُ لنفسي ضرًّا ولا نفعًا ولا موتًا ولا حياةً ولا نُشورًا. فإن صحَّ له شهودُ ذلك؛ فقد قال: إنِّي عبدُك حقيقةً. • ثم قال: "ناصيتي بيدِكَ"؛ أي: أنت المتصرِّفُ فيَّ، تُصرِّفُني كيف تشاءُ، لستُ أنا المتصرِّف في نفسي. وكيف يكونُ له في نفسه تصرُّفٌ [وهو] منْ نفسُهُ بيدِ ربِّه وسيِّدِهِ، وناصيتُهُ بيدِهِ، وقلبُهُ بين إصبعين من أصابعِهِ (١)، وموتُهُ وحياتُهُ وسعادتُهُ وشقاوتُهُ وعافيتُهُ وبلاؤهُ كلُّه إليه سبحانه، ليس إلى العبد منه شيءٌ، بل هو في قبضةِ سيِّدِهِ أضعفُ من مملوكٍ ضعيفٍ حقيرٍ ناصيتُهُ بيدِ سلطانٍ قاهرٍ مالكٍ له تحت تصرُّفِهِ وقهرِهِ، بل الأمرُ فوق ذلك؟! ومتى شهِدَ العبدُ أنَّ ناصيتَهُ ونواصيَ العبادِ كلَّها بيدِ الله وحدَه يُصرِّفُهم كيف يشاءُ؛ لم يَخَفْهُم بعد ذلك، ولم يَرْجُهُم، ولم يُنْزِلْهُمْ منزلة المالكين، بل منزلةَ عَبِيدٍ مقهورين مربوبينَ، المتصرِّفُ فيهم سواهُم، والمدبِّرُ لهم غيرُهم. فمن شَهِدَ نفسَهُ بهذا المشهدِ؛ صارَ فَقْرُهُ وضرورتُهُ إلى ربِّه وصفًا لازمًا له، ومتى شهدَ الناسَ كذلك لم يفتقر إليهم، ولم يُعلِّقَ أملَه ورجاءَه بهم، فاستقامَ توحيدُه وتوكُّلُه وعبوديتُهُ. ولهذا قال هودٌ لقومِهِ: ﴿إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٥٦)﴾ [هود: ٥٦].
(١) كما في الحديث الذي أخرجه مسلم (٢٦٥٤) عن عبد الله بن عمرو بن العاص.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie