Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

dan aku tidak memiliki tempat berlindung dan sandaran selain Tuanku yang aku ini hamba-Nya.”

Di dalam pengakuan tersebut juga terkandung kesadaran bahwa ia adalah makhluk yang dikuasai, diatur, diperintah dan dilarang; ia hanya bertindak menurut hukum penghambaan, bukan menurut kehendaknya sendiri. Sifat memilih untuk diri sendiri adalah hak para raja dan orang merdeka, sedangkan para hamba, seluruh perilaku mereka murni berada dalam bingkai perhambaan.

Merekalah hamba-hamba ketaatan yang disandarkan kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak mempunyai kekuasaan atas mereka” (Al-Ḥijr: 42), dan firman-Nya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu berjalan di bumi dengan rendah hati” (Al-Furqān: 63). Adapun selain mereka adalah hamba-hamba yang tunduk di bawah kekuasaan dan rububiyah-Nya; penyandaran mereka kepada-Nya laksana penyandaran seluruh rumah kepada kepemilikan-Nya, sedangkan penyandaran golongan pertama laksana penyandaran Baitullah kepada-Nya, unta-Nya, dan rumah-Nya—yaitu surga—kepada-Nya, serta sebagaimana Allah menyandarkan penghambaan Rasul-Nya dalam firman-Nya: “Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami” (Al-Baqarah: 23); “Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya” (Al-Isrā’: 1); dan “Dan bahwasanya ketika hamba Allah berdiri menyeru-Nya…” (Al-Jinn: 19).

• Realisasi dari ucapan, “Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu,” menuntut komitmen penghambaan berupa kerendahan, ketundukan, dan kembali kepada-Nya; menaati perintah Tuannya, menjauhi larangan-Nya, senantiasa merasa butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya, bertawakal kepada-Nya, mencari perlindungan dan naungan pada-Nya, serta tidak menggantungkan hati kepada selain-Nya, baik dalam cinta, takut maupun harap.

• Di dalamnya juga tersirat pengakuan bahwa aku adalah hamba dari segala sisi: kecil ataupun besar, hidup ataupun mati, taat maupun durhaka, sehat maupun tertimpa cobaan; dengan ruh, hati, lisan, dan seluruh anggota badan.

• Di dalamnya juga tersirat bahwa hartaku dan diriku adalah milik-Mu; sebab seorang hamba beserta segala yang dimilikinya adalah milik tuannya.

• Demikian pula, ia mengakui bahwa Engkaulah yang telah melimpahkan kepadaku setiap nikmat yang aku rasakan; semuanya adalah karunia-Mu kepada hamba-Mu ini.

من أعوذُ بِهِ وألوذُ به غير سيِّدي الذي أنا عبدُه. وفي ضِمْنِ ذلك الاعتراف بأنَّه مربوبٌ، مُدَبَّرٌ، مأمورٌ، منهيٌّ، إنَّما يتصرفُ بحُكم العبوديَّة لا بحكم الاختيار لنفسه؛ فليس هذا شأنَ العبدِ بل شأنُ الملوكِ والأحرارِ، وأما العبيدُ فتَصَرُّفُهُم على مَحْض العبوديَّة. فهؤلاء عَبِيدُ الطاعةِ المضافون إليه سبحانه في قوله: ﴿إِنَّ عِبَادِي لَيسَ لَكَ عَلَيهِمْ سُلْطَانٌ﴾ [الحجر: ٤٢]، وقوله: ﴿وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا﴾ [الفرقان: ٦٣]، ومن عداهم عَبِيدُ القَهْرِ والرُّبوبيَّة؛ فإضافتُهم إليه كإضافة سائر البيوتِ إلى مُلْكِهِ، وإضافةُ أولئك كإضافة البيت الحرام إليه وإضافة ناقتِهِ إليه ودارِهِ التي هيِ الجنةُ إليه، وإضافةِ عبوديَّةِ رسولِهِ إليه؛ بقولِهِ: ﴿وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا﴾ [البقرة: ٢٣]، ﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ﴾ [الإسراء: ١]، ﴿وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ﴾ [الجن: ١٩]. وفي التحقُّق بمعنى قولِهِ: "إنِّي عبدُك": التزامُ عبوديَّتِهِ من الذُلِّ والخُضوعِ والإنابة، وامتثالُ أمرِ سيدِهِ، واجتنابُ نهيِهِ، ودوامُ الافتقارِ إليه، واللَّجَأ إليه، والاستعانةِ به، والتوكُّل عليه، وعياذِ العبدِ به، ولِياذِهِ به، وأن لا يتعلَّقَ قلبُهُ بغيرِهِ محبَّةً وخوفًا ورجاءً. وفيه أيضًا أني عبدٌ من جميع الوجوه، صغيرًا وكبيرًا، حيًّا وميِّتًا، مطيعًا وعاصيًا، مُعافًى ومبتلًى؛ بالروح والقلب واللسان والجوارح. وفيه أيضًا أن مالي ونفسي مُلكٌ لك؛ فإن العبد وما يَملِكُ لسيدِه. وفيه أيضًا أنَّكَ أنت الذي مننْتَ عليَّ بكلِّ ما أنا فيه من نعمةٍ؛ فذلك كلُّه من إنعامك على عبدك.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie