sebagai tanah air dan tempat menetap; kita memasukinya semata-mata untuk mengambil bekal darinya menuju kediaman yang abadi. Ia hanyalah rumah persinggahan, bukan tempat kebahagiaan menetap; sebuah lintasan dan penyeberangan, bukan tanah air dan kediaman tetap.
Ayat ini memuat petunjuk tentang rububiyah-Nya, keesaan-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, dan kelembutan-Nya; mengingatkan akan nikmat dan kebaikan-Nya; sekaligus memperingatkan agar tidak bersandar kepada dunia dan menjadikannya tanah air serta tempat menetap, melainkan agar kita bergegas menempuh perjalanan di dalamnya menuju rumah-Nya dan surga-Nya.
Betapa agung apa yang tersimpan di balik ayat ini: pengenalan kepada-Nya, pensucian tauhid-Nya, pengingat akan nikmat-Nya, dorongan untuk berjalan menuju-Nya, bersiap menemui-Nya dan menghadap kepada-Nya; pemberitahuan bahwa Dia—Mahasuci—akan melipat dunia ini seakan-akan tidak pernah ada, menghidupkan kembali para penghuninya setelah mematikan mereka, dan kepada-Nyalah kebangkitan itu.
Faedah
Manusia memiliki dua kekuatan: kekuatan ilmiah-teoretis dan kekuatan praktis-kehendak.
Kebahagiaan yang sempurna bergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan tersebut.
Penyempurnaan kekuatan ilmiah tercapai dengan: mengenal Pencipta dan Pembentuknya, mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya (1); mengenal jalan yang mengantarkan kepadanya beserta rintangannya; serta mengenal diri sendiri dan aib-aibnya. Dengan lima pengetahuan ini (2) sempurnalah kekuatan ilmiah seseorang, dan orang yang paling berilmu adalah yang paling mengenal kelimanya dan paling mendalaminya.
Adapun penyempurnaan kekuatan praktis-kehendak tidak akan terwujud kecuali dengan memelihara hak-hak-Nya—Mahasuci Dia—atas hamba dan menunaikannya dengan ikhlas, jujur, tulus, ihsan, dan keteladanan