kebaikan.(1)
Maksudnya, Dia—Subḥānahu wa Taʿālā—menjadikan bumi bagi kita seperti unta jinak yang ke mana pun diarahkan, ia pasti patuh.
Ungkapan “pada bahu-bahunya” untuk menunjukkan jalan-jalan dan celah-celahnya sangatlah tepat setelah sebelumnya bumi digambarkan sebagai makhluk yang tunduk; orang yang berjalan di atasnya menginjak bahu-bahunya, yakni bagian tertingginya—karena itu “bahu-bahu” ditafsirkan sebagai gunung-gunung, sebagaimana bahu pada manusia adalah bagian atas tubuhnya. Mereka berkata: hal ini memberi isyarat bahwa berjalan di dataran rendahnya lebih mudah.
Sebagian lain berkata: yang dimaksud dengan bahu adalah sisi-sisi dan penjuru-penjuru; istilah bahu pada manusia pun bermakna kedua sisinya.(2)
Namun yang tampak kuat ialah bahwa bahu yang dimaksud adalah bagian-bagian tinggi; permukaan yang diinjak makhluk hidup merupakan bagian atas bumi, bukan sisi yang berhadapan dengannya. Permukaan sebuah bola adalah puncaknya, dan berjalan hanya terjadi pada permukaannya; maka penyebutannya dengan istilah “bahu-bahu” sesuai dengan gambaran bumi sebagai makhluk yang tunduk.
Kemudian Dia memerintahkan mereka agar memakan rezeki-Nya yang Dia tanamkan di dalamnya; Dia menundukkannya bagi mereka, menghamparkannya, membuka di dalamnya jalan-jalan dan lorong-lorong yang mereka lalui, serta menaruh di dalamnya rezeki mereka. Dengan demikian Dia menyebutkan penyiapan tempat tinggal agar dapat dimanfaatkan dan dijelajahi—pergi dan datang—serta memakan apa yang telah Dia sediakan di dalamnya bagi para penghuninya.
Selanjutnya, melalui firman-Nya: “Dan hanya kepada-Nyalah kalian akan dibangkitkan” (15), Dia mengingatkan bahwa di tempat tinggal ini kita bukanlah penduduk tetap; kita memasukinya hanyalah sebagai musafir yang sekadar melintas, sehingga tidak pantas kita menjadikannya