[Dan amal pun tersambung dengan perintah dan larangan-Nya; ia menunaikan ketaatan karena diperintah dan ia mencintainya, serta meninggalkan larangan karena ia dilarang dan ia membencinya. Inilah makna tersambungnya amal dengan perintah dan larangan-Nya. Hakikatnya adalah hilangnya segala motif yang mendorong berbuat atau meninggalkan karena kepentingan dan keuntungan duniawi yang segera.
Tawakal dan cinta pun tersambung kepada-Nya; sehingga hati menjadi percaya penuh kepada-Nya—Mahasuci Dia—tenang bersama-Nya, ridha terhadap indahnya pengaturan-Nya, dan sama sekali tidak menuduh-Nya dalam keadaan apa pun.
Kefakiran dan kebutuhannya pun tersambung hanya kepada-Nya—Mahasuci Dia—bukan kepada selain-Nya.
Ketakutan, harapan, kegembiraan, kesenangan, kegirangan, seluruhnya tersambung hanya kepada-Nya; maka ia tidak takut kepada selain-Nya, tidak berharap kepada selain-Nya, tidak bersukacita kepada selain-Nya dengan sukacita yang sempurna, dan tidak bergembira kepadanya dengan kegembiraan yang puncak. Bila melalui makhluk ia memperoleh seberkas kegembiraan dan kesenangan, maka kegembiraan yang utuh, kebahagiaan yang sempurna, kegirangan, kenikmatan, penyejuk mata, dan tenteramnya hati tidak ada kecuali bersama-Nya—Mahasuci Dia. Apa pun selain-Nya, bila membantu mencapai tujuan ini, ia akan bergembira dan senang karenanya; namun bila hal itu justru menutup jalan ke sana, maka kesedihan, keterasingan, dan guncangnya hati akibat keberadaannya lebih pantas baginya daripada merasa gembira. Karena itu, tidak ada kegembiraan dan kesenangan sejati kecuali bersama-Nya atau bersama sesuatu yang menghantarkan kepada-Nya dan menolong meraih keridaan-Nya.
Dia—Mahasuci—telah memberitakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang bergembira karena dunia dan perhiasannya, dan Dia memerintahkan agar bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya, yakni Islam, iman, dan Al-Qur’an—sebagaimana ditafsirkan para sahabat dan tabi‘in.
Kesimpulannya, siapa yang semua perkara ini tersambung kepada Allah—Mahasuci Dia—maka sungguh ia telah sampai; adapun siapa yang tidak, ia terputus dari Rabb-nya, tersambung hanya kepada kepentingan dan nafsunya, tersamarkan baginya pengetahuan, kehendak, dan jalannya.]