Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

kuasa atasnya.

Allah Ta‘ala juga berfirman: “Dan bahwa kepada Rabb-mulah kesudahan (segala urusan).” (an-Najm: 42). Ayat ini memuat khazanah yang agung, yaitu: setiap tujuan, bila tidak diniatkan karena-Nya dan tidak tersambung kepada-Nya, maka ia akan lenyap dan terputus; sebab kesudahan bukanlah kepadanya. Kesudahan hanyalah kepada Dzat yang seluruh perkara berakhir pada ciptaan-Nya, kehendak-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya. Dialah puncak setiap yang dicari. Segala sesuatu yang dicintai namun tidak dicintai karena-Nya, kecintaannya hanyalah kepayahan dan siksa; setiap amal yang tidak diniatkan untuk-Nya adalah sia-sia dan batal; dan setiap hati yang tidak sampai kepada-Nya adalah sengsara, terhalang dari kebahagiaan dan keberuntungannya.

Segala sesuatu yang diminta dari-Nya terkumpul dalam firman-Nya: “Dan tidak ada suatu pun melainkan di sisi Kami khazanah-khazanahnya,” sedangkan segala sesuatu yang diminta untuk-Nya berhimpun dalam firman-Nya: “Dan bahwa kepada Rabb-mulah kesudahan.” Tiada tujuan setelah-Nya—Maha Suci Dia—yang patut dikejar, dan tiada tujuan di bawah-Nya yang menjadi tempat terakhir berhenti.

Di balik ini tersimpan rahasia besar tauhid: hati tidak akan menetap, tenang, dan damai kecuali dengan sampai kepada-Nya. Segala sesuatu selain-Nya yang dicintai dan diinginkan, hakikatnya hanya diinginkan demi selain dirinya. Yang dicintai karena zatnya hanyalah satu Dzat—kepada-Nyalah kesudahan; mustahil kesudahan itu berada pada dua pihak, sebagaimana mustahil permulaan makhluk berasal dari dua pihak.

Maka siapa pun yang puncak cinta, keinginan, kehendak, dan ketaatannya berakhir pada selain-Nya, semuanya akan batal, lenyap darinya dan meninggalkannya justru saat ia paling membutuhkannya. Sebaliknya, siapa pun yang puncak cinta, keinginan, rasa takut, dan permohonannya berakhir pada-Nya semata, ia akan meraih kenikmatan, kelezatan, kegembiraan, dan kebahagiaan-Nya selama-lamanya.

Seorang hamba senantiasa berbolak-balik antara hukum perintah dan hukum ketetapan; ia membutuhkan—bahkan terdesak—pertolongan ketika menghadapi perintah, dan kelembutan ketika menghadapi ketetapan. Seberapa besar ia menunaikan perintah, sebesar itu pula kelembutan yang ia peroleh saat ketetapan datang; maka jika penyempurnaannya

يَقدِرُ عليه. وقوله: ﴿وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢)﴾ [النجم: ٤٢] متضمن لكنز عظيم، وهو أن كل مراد إن لم يُرَدْ لأجله ويتصلْ به فهو مضمحل منقطع؛ فإنه ليس إليه المنتهى، وليس المنتهى إلا إلى الذي انتهت إليه الأمور كلها، فانتهت إلى خلقه ومشيئته وحكمته وعلمه؛ فهو غاية كل مطلوب، وكل محبوبٍ لا يُحَبُّ لأجله فمحبته عَناءٌ وعذابٌ، وكل عمل لا يُراد لأجله فهو ضائع وباطل، وكل قلب لا يصل إليه فهو شقيٌّ محجوبٌ عن سعادته وفلاحه. فاجتمع ما يُراد منه كله في قوله: ﴿وَإِنْ مِنْ شَيءٍ إلا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ﴾، واجتمع ما يُراد له كله في قوله: ﴿وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢)﴾؛ فليس وراءه سبحانه غاية تُطلَب، وليس دونه غايةٌ إليها المنتهى. وتحت هذا سرٌّ عظيم من أسرار التوحيد، وهو أن القلب لا يستقر ولا يطمئنُّ ويَسكُن إلا بالوصول إليه، وكل ما سواه مما يُحَبّ ويُراد فمرادٌ لغيره، وليس المراد المحبوب لذاته إلا واحدٌ إليه المنتهى، ويستحيل أن يكون المنتهى إلى اثنين؛ كما يستحيل أن يكون ابتداءُ المخلوقات من اثنين. فمن كان انتهاء محبته ورغبته وإرادته وطاعته إلى غيره بطلَ عليه ذلك، وزال عنه وفارقه أحوجَ ما كان إليه، ومن كان انتهاء محبته ورغبته ورهبته وطلبه هو سبحانه ظفِرَ بنعيمه ولذته وبهجته وسعادته أبدَ الآباد. العبد دائمًا متقلبٌ بين أحكام الأوامر وأحكام النوازل؛ فهو محتاجٌ -بل مضطرٌّ- إلى العون عند الأوامر وإلى اللطف عند النوازل، وعلى قدر قيامه بالأوامر يحصل له من اللطف عند النوازل؛ فإن كمل

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie