[Adapun pembahasan tentang amalan-amalan hati, sebab-sebab dosa dan maksiat beserta akibatnya, akhlak terpuji dan tercela, nasihat, peringatan, pelajaran, kelembutan, isyarat, renungan yang melembutkan kalbu, dan zuhud, menempati kedudukan yang menonjol di dalam buku ini.
Singkatnya, buku ini sarat faedah; karena itu ia benar-benar pantas dinamai “Kitab al-Fawâ’id”. Ia berbeda tema dan pembahasannya dari “Badâ’i‘ al-Fawâ’id”. Kitab al-Fawâ’id—sebagaimana telah kita lihat—sebagian besar berisi renungan dan catatan hati, pelajaran dan nasihat, untaian hikmah yang lembut dan menyentuh, serta jarang mengutip dari sumber lain. Adapun Badâ’i‘ memuat permasalahan-permasalahan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu, disertai penelitian yang mendalam dan uraian panjang, dan banyak memuat kutipan dari para ulama beserta karya mereka, lengkap dengan komentar. Hanya pada satu tempat kedua kitab ini sama-sama mengutip al-Mudhish karya Ibn al-Jawzî tanpa menyebutkan sumbernya (1).
• Penetapan judul kitab dan penisbatannya kepada pengarang
Kitab ini pertama kali dicetak di Percetakan al-Manîriyyah, Kairo, pada tahun 1344 H dengan perhatian Syekh Muḥammad Munîr ad-Dimasyqî; penerbit menamakannya “Kitab al-Fawâ’id”. Para penulis biografi terdahulu tentang Ibn al-Qayyim tidak pernah menyebut kitab ini dan tidak pula menyinggung adanya karya beliau dengan judul tersebut dalam sumber-sumber tarjamah; buku ini baru masyhur setelah dicetak, kemudian disebut oleh para penulis biografi mutaakhir.
Satu-satunya naskah asli kitab ini terdapat dalam karya al-Kawâkib ad-Darârî fî Tartîb Musnad al-Imâm Aḥmad ‘alâ Abwâb al-Bukhârî karya Ibn ‘Urwah al-Ḥanbalî (wafat pada tahun …]