Al-FawāʾidIbn al-Qayyim

[…maka kebaikan seluruhnya berada pada persatuan keduanya, sedangkan keburukan ada pada perpisahan keduanya.
• Dan pembuahan bagi himmah (semangat) yang tinggi adalah niat yang benar; apabila keduanya bersatu, seorang hamba akan mencapai tujuan yang paling diidam-idamkan.

Kaidah
Seorang hamba mempunyai dua saat berdiri di hadapan Allah: satu ketika ia berdiri di hadapan-Nya dalam shalat, dan satu lagi ketika ia berdiri di hadapan-Nya pada hari perjumpaan (Kiamat). Barang siapa menunaikan hak dari saat yang pertama, maka saat yang lain akan dipermudah baginya; sedangkan siapa yang meremehkan saat ini dan tidak menunaikan haknya, ia akan dipersulit pada saat itu.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan pada sebagian malam bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang. Sesungguhnya mereka itu mencintai yang segera (dunia) dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat.” (al-Insān: 26–27).

Kaidah
Kenikmatan—pada dirinya—memang diinginkan oleh manusia, bahkan oleh setiap makhluk hidup; maka ia tidak tercela karena ia adalah kenikmatan. Ia baru tercela—dan meninggalkannya lebih baik serta lebih bermanfaat daripada meraihnya—apabila ia menyebabkan hilangnya kenikmatan yang lebih agung dan lebih sempurna darinya, atau menimbulkan rasa sakit yang kejadiannya lebih besar daripada rasa sakit karena kehilangannya. Di sinilah tampak perbedaan antara orang berakal nan cerdas dan orang bodoh nan dungu; ketika akal memahami perbedaan antara dua kenikmatan dan dua rasa sakit, dan mengetahui bahwa keduanya tidak sebanding, maka mudah baginya meninggalkan kenikmatan yang lebih rendah demi meraih yang lebih tinggi, serta menanggung rasa sakit yang lebih ringan demi menolak yang lebih berat.
Setelah kaidah ini jelas, maka kenikmatan akhirat lebih agung dan lebih langgeng, sementara kenikmatan dunia lebih kecil dan lebih singkat; demikian pula rasa sakit akhirat dan rasa sakit dunia.
Tolok ukurnya adalah iman dan keyakinan; apabila keyakinan itu kuat dan meresap ke dalam hati, ia akan mengutamakan yang lebih tinggi atas yang lebih rendah dalam hal kenikmatan, dan ia akan menanggung rasa sakit yang lebih ringan…]

كله في اجتماعهما، والشر في فرقتهما. • ولِقاح الهمة العالية النية الصحيحة؛ فإذا اجتمعا بلغ العبدُ غايةَ المراد. قاعدة للعبد بين يدي الله موقفان: موقفٌ بين يديه في الصلاة، وموقفٌ بين يديه يوم لقائه. فمن قام بحق الموقف الأول هُوِّن عليه الموقف الآخر، ومن استهان بهذا الموقف ولم يُوفِّه حقَّه شُدِّد عليه ذلك الموقف. قال تعالى: ﴿وَمِنَ اللَّيلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيلًا طَويلًا (٢٦) إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا (٢٧)﴾ [الإنسان: ٢٦ - ٢٧]. قاعدة اللَّذةُ من حيث هي مطلوبة للإنسان بل ولكلِّ حيٍّ؛ فلا تُذَمُّ من جهة كونها لذَّةً، وإنما تُذَمُّ ويكون تركها خيرًا من نيلها وأنفعَ إذا تضمنتْ فَواتَ لذَّةٍ أعظمَ منها وأكملَ، أو أعقَبتْ ألمًا حصوله أعظم من ألم فواتها؛ فها هنا يظهر الفرق بين العاقل الفَطِن والأحمق الجاهل؛ فمتى عرف العقلُ التفاوتَ بين اللَّذَّتين والألمين، وأنه لا نسبة لأحدهما إلى الآخر؛ هانَ عليه تركُ أدنى اللذتين لتحصيل أعلاهما، واحتمالُ أيسرِ الألمينِ لدفع أعلاهما. وإذا تقررتْ هذه القاعدة فلذة الآخرة أعظم وأدومُ، ولذة الدنيا أصغر وأقصر، وكذلك ألم الآخرة وألم الدنيا. والمُعوَّل في ذلك على الإيمان واليقين؛ فإذا قوي اليقينُ وباشرَ القلب آثرَ الأعلى على الأدنى في جانب اللذة، واحتملَ الألمَ الأسهلَ

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie