[sedangkan kekuatannya ialah ketika arus (ilham) itu bekerja di dalam batin dan tidak tampak pada lahirnya; hal itu lebih kuat dan lebih langgeng baginya, karena bila ia menampakkannya, pengaruhnya melemah dan hampir terputus.
Demikianlah ketentuan syahqah pada orang yang tulus; sebab orang yang bersyahqah hanya salah satu dari tiga: tulus, pencuri, atau munafik.
Kaedah yang bermanfaat
Sumber segala kebaikan dan keburukan berawal dari perenungan; pikiranlah pangkal kemauan, permintaan, zuhud, penolakan, cinta, dan benci.
Perenungan yang paling bermanfaat ialah merenungkan kemaslahatan akhirat beserta jalan meraihnya, serta merenungkan kerusakan akhirat beserta cara menghindarinya; inilah empat jenis renungan yang paling mulia. Berikutnya ada empat lagi: merenungkan kemaslahatan dunia dan cara meraihnya, serta merenungkan kerusakan dunia dan cara melindungi diri darinya. Pada delapan kategori inilah pikiran orang-orang berakal berputar.
Puncak kelompok pertama adalah merenungkan nikmat dan karunia Allah, perintah dan larangan-Nya, serta jalan untuk mengenal-Nya beserta nama-nama dan sifat-Nya melalui Kitab-Nya, Sunnah Nabi-Nya, dan segala yang sejalan dengannya. Renungan semacam ini menumbuhkan cinta dan ma’rifat; bila ia merenungi akhirat—keagungan dan keabadiannya—serta dunia—kehinaan dan kefanaannya—maka terbitlah keinginan terhadap akhirat dan sikap zuhud terhadap dunia. Setiap kali ia merenungi pendeknya angan-angan dan sempitnya waktu, lahirlah kesungguhan, kegigihan, dan kesiapan mencurahkan daya untuk memanfaatkan waktu.
Renungan-renungan tersebut meninggikan semangat, menghidupkannya kembali setelah mati dan rendah, dan menempatkan pelakunya di satu lembah sementara manusia berada di lembah lain.
Berseberangan dengan renungan ini, ada pula renungan-renungan buruk yang berkeliaran di hati kebanyakan manusia.]