sebagai hamba baginya, dan beliau pun mendoakannya agar celaka dan terjungkir-balik, seraya bersabda, “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham; celaka dan terjungkir-baliklah ia; apabila ia tertusuk duri, semoga ia tidak mendapat kesempatan untuk mencabutnya.” (1)
Semua manusia di negeri persinggahan ini berada di atas sayap sebuah perjalanan; setiap musafir tengah bergerak menuju tujuannya dan akan singgah pada siapa yang gembira menerima kedatangannya. Adapun pencari Allah dan kampung akhirat, selama perjalanannya ia hanyalah seorang pengelana menuju Allah dan, saat tiba, ia akan singgah di hadapan-Nya; inilah tekad yang memenuhi hatinya selama perjalanan maupun ketika ia telah menuntaskannya.
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dalam keadaan rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr: 27-30)
Istri Fir‘aun berkata, "Wahai Rabb-ku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga." (QS at-Tahrîm: 11) — ia lebih dulu meminta agar rumah itu berada di sisi-Nya sebelum meminta agar berada di surga, karena tetangga lebih utama daripada rumah.
Dari perkataan Syekh ‘Alî (2):
Dikatakan kepadaku dalam tidur yang serupa terjaga, atau terjaga yang serupa tidur:
• "Jangan menampakkan kebutuhanmu kepada selain-Ku; niscaya akan Ku-lipatgandakan kebutuhan itu atasmu, sebagai balasan karena engkau keluar dari batas penghambaanmu.
• Aku mengujimu dengan kefakiran agar engkau menjadi emas murni; maka janganlah engkau menjadi palsu kembali setelah dilebur.
• Aku telah menetapkan kefakiran untukmu dan kekayaan untuk-Ku; apabila engkau menyambungkannya melalui-Ku, niscaya Aku akan menyambungmu