[Secara ringkas, ia tidak memandang kehidupan kecuali bersama dan karena-Nya; sedangkan kematian, rasa sakit, kegelisahan, kesusahan, dan kesedihan ia rasakan hanya ketika tidak bersama-Nya. Maka baginya ada dua surga: surga yang disegerakan di dunia dan surga pada Hari Kiamat.
Faedah
Kembali kepada Allah ialah menambatkan hati kepada-Nya sebagaimana tubuh beriktikaf di masjid—tak pernah beranjak darinya.
Hakikatnya adalah diamnya hati pada kecintaan kepada-Nya, menyebut-Nya dengan penghormatan dan pengagungan, serta teguhnya anggota tubuh dalam ketaatan kepada-Nya, dengan tulus ikhlas dan mengikuti Rasul-Nya.
Barang siapa tidak menambatkan hatinya hanya kepada Allah, niscaya ia akan menambatkannya kepada berbagai patung; sebagaimana pemimpin para hanif, Ibrahim, berkata kepada kaumnya: “Apakah patung-patung ini yang kalian tekuni?” (QS al-Anbiyā’: 52).
Maka Ibrahim dan kaumnya pun berbagi hakikat “berdiam diri”: bagian kaumnya adalah berdiam pada patung-patung, sedangkan bagiannya adalah berdiam pada Tuhan Yang Mahamulia. Tamâtsîl (jamak dari timtsâl) berarti rupa-rupa yang dipahat.
Keterikatan hati kepada selain Allah, kesibukan dengannya, dan ketergantungan kepadanya adalah sejenis berdiam diri terhadap patung-patung yang berdiri di dalam hati; hal itu serupa dengan berdiamnya orang-orang pada berhala. Inilah sebabnya kemusyrikan para penyembah berhala terletak pada berdiamnya hati, tekad, dan keinginan mereka pada patung-patung tersebut.
Apabila di dalam hati terdapat “patung-patung” yang telah menguasai dan memperbudaknya sehingga ia berdiam padanya, maka itu sama dengan berdiamnya para penyembah berhala terhadap berhala mereka; karena itulah Nabi ﷺ menamakannya …]