[Faedah
Orang yang ingin menembus jalan menuju Allah dan negeri akhirat—bahkan ke segala bidang ilmu, keterampilan, dan kepemimpinan sehingga ia menjadi panutan di dalamnya—haruslah berani, tangguh, mampu mengendalikan wahamnya, tidak tunduk di bawah kuasa khayalnya, zuhud terhadap segala sesuatu selain yang ia cari, jatuh cinta kepada tujuan yang ia tuju, mengetahui jalan untuk mencapainya dan jalan-jalan yang memutus darinya, berjiwa besar, teguh hati, tidak dipalingkan dari tujuannya oleh celaan pencela maupun teguran pengkritik; banyak diam, terus-menerus berpikir, tidak tergoda oleh nikmatnya pujian dan tidak tersakiti oleh pedihnya celaan; menunaikan segala sarana yang membantunya; tidak mudah terpancing oleh sanggahan; semboyannya sabar, dan istirahatnya adalah letih; mencintai kemuliaan akhlak; menjaga waktunya; tidak bergaul dengan manusia kecuali dengan penuh kewaspadaan, laksana burung yang mematuk biji di tengah-tengah mereka; senantiasa mengendalikan diri dengan harap dan takut; menginginkan buah keistimewaan di atas sesamanya; tidak melepaskan satu pun indranya dengan sia-sia dan tidak membiarkan pikirannya mengembara di pelataran alam.
Kunci semua itu ialah meninggalkan kebiasaan dan memutus segala ikatan yang menghalangimu dari tujuan.
Menurut kebanyakan orang awam, menjaga adab dalam kondisi tertabir lebih baik daripada melepaskan adab di tengah penyingkapan.
Faedah
Di antara para ahli zikir ada yang memulai dengan zikir lisan, meski dalam keadaan lalai; ia teruskan hingga hatinya hadir, lalu keduanya berpadu dalam zikir. Ada pula yang tidak memandang cara itu; ia tidak mau memulai dalam kelalaian, tetapi menenangkan diri sampai hatinya hadir, lalu memulai zikir dengan hati. Ketika hati telah kuat, ia mengajak lisannya, dan keduanya pun berpadu.]